POLA JABAR - Semangka merupakan salah satu komoditas buah paling populer di dunia. Kesegarannya menjadikannya primadona di pasar global. Namun, di balik pertumbuhan industri semangka yang pesat, terdapat tantangan lingkungan yang signifikan yang perlu diperhatikan oleh para petani, pelaku industri, hingga konsumen. 

Berdasarkan data dan panduan dari Food and Agriculture Organization (FAO), budidaya semangka memiliki jejak ekologis yang cukup besar jika tidak dikelola dengan prinsip keberlanjutan.

1. Tingginya Konsumsi Air (Water Footprint)

Semangka, sesuai namanya, mengandung sekitar 92% air. Hal ini membuat tanaman ini sangat bergantung pada irigasi yang intensif, terutama di daerah semi-arid atau wilayah dengan curah hujan rendah. 

Menurut studi yang sering dikutip dalam literatur FAO, penggunaan air tanah yang berlebihan untuk lahan semangka dapat menyebabkan penurunan permukaan air tanah (aquifer depletion). Jika sistem irigasi tidak efisien, seperti penggunaan genangan konvensional, risiko pemborosan air menjadi sangat tinggi.

2. Degradasi Kualitas Tanah dan Nutrisi

Tanaman semangka termasuk kelompok "heavy feeders" atau tanaman yang rakus nutrisi. Penanaman semangka secara monokultur (terus-menerus di lahan yang sama) tanpa rotasi tanaman yang tepat dapat menguras unsur hara tanah secara drastis. FAO menekankan bahwa praktik ini sering kali memicu ketergantungan pada pupuk kimia sintetik. 

Penggunaan pupuk nitrogen yang berlebihan tidak hanya merusak struktur tanah dalam jangka panjang, tetapi juga berisiko menyebabkan pencemaran air permukaan melalui proses pencucian (leaching).

3. Penggunaan Pestisida dan Dampaknya pada Biodiversitas