POLA JABAR - Dalam satu dekade terakhir, rokok elektronik atau vape sering kali dipasarkan sebagai alternatif yang "lebih aman" dibandingkan rokok konvensional. Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nicotine & Tobacco Research mengungkap sisi lain yang mengkhawatirkan: risiko kecanduan nikotin pada pengguna rokok elektronik ternyata bisa jauh lebih kompleks dan intens dibandingkan yang dibayangkan masyarakat awam.
Persoalan utama bukan lagi terletak pada ada atau tidaknya tembakau, melainkan pada bagaimana nikotin dikirimkan ke dalam tubuh dan bagaimana otak merespons stimulus tersebut secara berkelanjutan.
Salah satu temuan kunci yang menjadi sorotan adalah efisiensi pengiriman nikotin. Rokok elektronik generasi terbaru menggunakan teknologi yang memungkinkan nikotin diserap lebih cepat oleh paru-paru dan dialirkan ke otak dalam hitungan detik. Penggunaan nicotine salts (garam nikotin) pada banyak produk cairan vape memungkinkan konsentrasi nikotin yang lebih tinggi dihirup tanpa menimbulkan rasa sakit atau iritasi berlebih pada tenggorokan (throat hit).
Kondisi ini menciptakan jebakan biologis. Karena uap yang dihasilkan terasa lebih halus, pengguna cenderung menghirup lebih sering dan dalam jumlah yang lebih banyak. Akibatnya, kadar nikotin dalam darah bisa mencapai puncaknya dengan sangat cepat, yang memicu lonjakan dopamin di otak secara instan.
Berbeda dengan rokok konvensional yang memiliki "titik henti" alami yaitu saat batang rokok habis terbakar rokok elektronik memungkinkan penggunaan tanpa henti. Fleksibilitas ini membuat pengguna sering kali tidak sadar berapa banyak nikotin yang telah mereka konsumsi dalam satu sesi.
Penelitian menunjukkan bahwa pola penggunaan yang berkelanjutan ini memperkuat jalur saraf yang berkaitan dengan ketergantungan. Otak mulai beradaptasi dengan kehadiran nikotin dosis tinggi secara terus-menerus, yang menyebabkan peningkatan toleransi. Ketika seseorang mencoba berhenti, gejala putus zat (withdrawal) seperti kecemasan, iritabilitas, dan sulit berkonsentrasi muncul jauh lebih kuat dibandingkan pengguna rokok bakar.
Risiko kecanduan ini menjadi sangat kritis ketika menyasar populasi muda. Otak manusia terus berkembang hingga usia pertengahan 20-an. Paparan nikotin dari rokok elektronik pada masa ini dapat mengubah cara kerja sirkuit otak yang mengendalikan perhatian, pembelajaran, dan kontrol impuls.
Data dalam Nicotine & Tobacco Research mengindikasikan bahwa individu yang memulai dengan rokok elektronik memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami ketergantungan jangka panjang. Hal ini disebabkan oleh sifat nikotin yang mampu "mengkabel ulang" sistem imbalan di otak, membuat zat lain atau aktivitas lain terasa kurang memuaskan dibandingkan sensasi dari nikotin.
Meskipun rokok elektronik tidak mengandung tar hasil pembakaran tembakau, risiko adiksi nikotin tetap menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang nyata. Kecanduan bukan hanya soal kebiasaan, melainkan perubahan kimiawi di dalam otak yang sulit untuk dibalikkan.