POLA JABAR - Dalam satu dekade terakhir, lanskap konsumsi nikotin global telah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan. Kehadiran rokok elektrik atau vaping tidak lagi sekadar menjadi alternatif bagi perokok berat yang ingin berhenti, melainkan telah bertransformasi menjadi tren gaya hidup yang merambah berbagai lapisan usia. Namun, di balik awan uap yang tebal dan aroma buah-buahan yang menggoda, tersimpan risiko kesehatan yang mulai memicu alarm peringatan di kalangan komunitas medis internasional.

Berdasarkan laporan komprehensif dari The Journal of Asian Society, peningkatan prevalensi penggunaan Vape di wilayah Asia menunjukkan grafik yang mengkhawatirkan. Meskipun sering dipasarkan sebagai produk dengan risiko rendah (low risk), bukti-bukti klinis mulai menunjukkan sisi gelap dari paparan aerosol secara terus-menerus terhadap tubuh manusia.

Salah satu kesalahpahaman terbesar di masyarakat adalah anggapan bahwa uap vaping hanyalah uap air biasa. Faktanya, cairan rokok elektrik mengandung campuran kompleks nikotin, propilen glikol, gliserin, dan zat perasa kimiawi. Saat dipanaskan, zat-zat ini mengalami reaksi kimia yang menghasilkan senyawa toksik seperti formaldehida dan akrolein.

Penelitian dalam jurnal tersebut menyoroti bahwa partikel ultrafine yang dihasilkan oleh perangkat vaping mampu menembus jauh ke dalam jaringan paru-paru. Hal ini memicu respons inflamasi sistemik yang jika dibiarkan dalam jangka panjang, dapat menyebabkan perubahan struktur seluler. Fenomena ini bukan sekadar iritasi ringan, melainkan ancaman terhadap elastisitas paru-paru dan efisiensi pertukaran oksigen dalam darah.

Banyak pengguna yang beralih ke vaping dengan harapan melindungi jantung mereka dari bahaya tar rokok konvensional. Namun, data menunjukkan bahwa nikotin dalam rokok elektrik tetap memiliki efek stimulan yang kuat. Penggunaan rutin berkaitan erat dengan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah arteri secara mendadak.

The Journal of Asian Society menekankan adanya risiko disfungsi endotel, yaitu kondisi di mana lapisan pembuluh darah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kondisi ini merupakan cikal bakal terjadinya kekakuan arteri yang meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke, bahkan pada pengguna yang berusia relatif muda.

Dunia medis sempat dikejutkan dengan munculnya istilah EVALI (E-cigarette or Vaping product use-Associated Lung Injury). Meskipun banyak kasus dikaitkan dengan penambahan zat tertentu secara ilegal, mekanisme dasar vaping tetap membawa risiko peradangan paru akut. Gejala seperti sesak napas, batuk kronis, hingga nyeri dada kini semakin sering ditemukan pada pengguna aktif rokok elektrik dibandingkan mereka yang tidak merokok sama sekali.

Selain itu, paparan zat kimia perasa seperti diasetil telah lama dikaitkan dengan kondisi medis serius yang merusak saluran udara terkecil di paru-paru. Hal ini menciptakan beban kesehatan masyarakat yang baru, di mana fasilitas medis mulai dipenuhi oleh pasien dengan keluhan pernapasan yang dipicu oleh kebiasaan vaping.

Industri rokok elektrik sering kali menggunakan narasi "pengurangan bahaya" (harm reduction) sebagai strategi pemasaran utama. Namun, bagi para ahli kesehatan di Asia, narasi ini perlu dikaji ulang secara kritis. Masalah utamanya bukan hanya pada perbandingan tingkat racun dengan rokok tembakau, tetapi pada fakta bahwa vaping menciptakan kecanduan baru yang sulit diputus.