POLA JABAR - Dalam ingatan kolektif masyarakat komunal di Sumatra atau Jawa beberapa dekade lalu, sosok "Manusia Harimau" bukan sekadar hantu atau monster yang muncul di layar kaca. Ia adalah simbol otoritas moral, penjaga hutan, dan perwujudan keseimbangan alam. Namun, mengutip ulasan dalam Cultural Anthropology Review, narasi ini telah mengalami pergeseran drastis seiring dengan derap modernisasi dan urbanisasi yang kencang.

Dari Penjaga Ekosistem Menjadi Sosok yang Terasing

Pada masa lalu, mitos Manusia Harimau atau Cindaku berfungsi sebagai alat kontrol sosial. Masyarakat percaya bahwa mereka yang melanggar aturan adat atau merusak hutan akan berhadapan dengan entitas ini. Secara antropologis, ini adalah cara tradisional manusia menjaga ekosistem. Harimau tidak hanya dilihat sebagai predator, tetapi sebagai "nenek" atau leluhur yang mengawasi perilaku manusia.

Namun, masuknya era antroposen di mana manusia menjadi dominan atas alam mengubah segalanya. Hutan-hutan yang dulu sakral kini berganti menjadi perkebunan sawit atau pemukiman. Ketika habitat aslinya hilang, narasi Manusia Harimau ikut kehilangan "rumah" spiritualnya. Sosok yang dulunya dihormati sebagai pelindung, perlahan bergeser menjadi sosok yang ditakuti dalam konteks yang negatif.

Komodifikasi dan Pop Culture

Salah satu faktor terbesar yang mengubah wajah Manusia Harimau adalah industri hiburan. Di media modern, narasi ini sering kali dipreteli dari nilai-nilai filosofisnya dan dikemas ulang menjadi konten horor murni atau aksi supranatural.

Dalam sinetron atau film layar lebar, Manusia Harimau sering digambarkan melalui kacamata superhero atau monster haus darah. Transformasi ini menghapus dimensi etis dari mitos aslinya. Alih-alih membicarakan tentang kearifan lokal dalam menjaga hutan, narasi modern lebih fokus pada visualisasi CGI yang dramatis dan konflik romansa atau dendam pribadi.

Peran Media Sosial dan Urban Legend

Di era digital, narasi Manusia Harimau juga mengalami "urbanisasi". Cerita-cerita yang berkembang di media sosial seperti TikTok atau Twitter (X) cenderung menempatkan entitas ini dalam kategori urban legend yang misterius. Fokusnya bukan lagi pada kaitan manusia dengan tanah kelahirannya, melainkan pada sensasi ketakutan atau "penampakan" yang bisa viral.