POLA JABAR - Dalam dunia pembuatan sabun, pemilihan alkali adalah kunci utama dalam menentukan tekstur, daya larut, hingga penggunaan sabun tersebut. Alkari sendiri adalah bahan kimia kuat yang digunakan dalam proses pembuatan sabun melalui reaksi saponifikasi.
Dua jenis alkali yang paling sering dibahas dalam penelitian kimia dan publikasi ResearchGate adalah Natrium Hidroksida (NaOH) dan Kalium Hidroksida (KOH). Keduanya memang sama-sama berfungsi sebagai bahan untuk proses saponifikasi, namun hasil akhirnya sangat berbeda, inilah perbedaanya.
1. Sabun Keras: Menggunakan NaOH
Sabun yang dibuat dari Natrium Hidroksida (NaOH) dikenal sebagai sabun batang yang teksturnya padat dan tidak mudah hancur.
Mengapa bisa keras?
NaOH bereaksi dengan minyak atau lemak menghasilkan garam sabun yang memiliki struktur lebih rapat. Itulah sebabnya sabun keras cenderung lebih awet, mudah dibentuk, dan cocok digunakan untuk mandi harian maupun keperluan laundry.
Kelebihan sabun keras berbasis NaOH yakni tidak cepat habis ketika terkena air, mudah dikemas dan dipasarkan, dan cocok untuk penggunaan langsung di tangan atau tubuh.
2. Sabun Lunak: Menggunakan KOH
Sebaliknya, Kalium Hidroksida (KOH) menghasilkan sabun dengan tekstur lunak, gel, atau bahkan cair. Sabun ini lebih mudah larut di dalam air.
Mengapa lebih cair?
Ion kalium dalam KOH memberikan struktur molekul yang lebih longgar pada sabun sehingga teksturnya tidak mengeras. Karena kelarutannya tinggi, sabun lunak banyak digunakan untuk sabun cair wajah, sabun tangan, sabun cuci piring, hingga sabun pembersih industri.