POLA JABAR - Tren mandi air dingin atau berendam di air es (ice bathing) kini semakin populer sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Banyak praktisi kesehatan hingga atlet mengklaim bahwa paparan suhu dingin dapat memperkuat daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit.

Namun, sejauh mana kebenaran klaim tersebut jika dilihat dari kacamata medis dan riset ilmiah, khususnya merujuk pada tinjauan dari Harvard Health?

Mekanisme Tubuh Saat Terkena Paparan Dingin

Secara biologis, ketika tubuh terpapar air dingin, terjadi reaksi yang disebut dengan respons stres akut. Sistem saraf simpatik akan aktif, yang kemudian memicu pelepasan hormon adrenalin dan norepinefrin. Reaksi ini menyebabkan pembuluh darah menyempit (vasokonstriksi) sebagai upaya tubuh untuk mempertahankan suhu inti yang stabil agar organ vital tetap berfungsi dengan baik.

Banyak orang percaya bahwa kejutan suhu ini dapat "melatih" sistem imun. Namun, menurut penjelasan dari pakar di Harvard Health, hubungan antara air dingin dan imunitas bersifat kompleks. Belum ada bukti tunggal yang secara absolut menyatakan bahwa hanya dengan mandi air dingin, seseorang otomatis menjadi kebal terhadap virus atau bakteri.

Apakah Benar Meningkatkan Sel Darah Putih?

Salah satu teori yang sering dikutip adalah bahwa paparan suhu rendah secara rutin dapat meningkatkan jumlah sel darah putih (leukosit). Beberapa penelitian kecil menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi plasma dan sel imun setelah paparan air dingin. Hal ini diduga terjadi karena tubuh berusaha beradaptasi dengan stresor fisik yang diberikan secara berkala.

Meskipun demikian, Harvard Health menekankan bahwa sistem kekebalan tubuh manusia tidak bekerja secara linear. Imunitas dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk nutrisi, pola tidur, tingkat stres kronis, dan genetika. Mandi air dingin mungkin memberikan "dorongan" kecil pada sirkulasi, tetapi tidak bisa menjadi pengganti gaya hidup sehat secara menyeluruh.

Manfaat Lain yang Mendukung Kesehatan Secara Tidak Langsung