POLA JABAR - Selama bertahun-tahun, rokok elektronik atau vape diposisikan sebagai alternatif yang lebih aman bagi mereka yang ingin meninggalkan rokok konvensional. Namun, seiring berkembangnya penelitian di bidang toksikologi, tabir keamanan tersebut mulai terbuka. Salah satu perhatian utama para ahli medis saat ini adalah dampak negatif penggunaan rokok elektronik terhadap sistem reproduksi pria.
Berdasarkan riset yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Reproductive Toxicology, paparan zat kimia dari uap rokok elektronik terbukti memiliki kaitan erat dengan gangguan kesuburan serta penurunan kualitas sel reproduksi pria.
Penurunan Kualitas dan Kuantitas Sperma
Salah satu temuan paling signifikan dalam berbagai studi toksikologi adalah pengaruh negatif cairan vape (e-liquid) terhadap parameter sperma. Kandungan nikotin yang tinggi, meskipun dalam bentuk uap, tetap memicu penyempitan pembuluh darah yang dapat memengaruhi suplai nutrisi ke testis.
Hasil riset menunjukkan bahwa pengguna rokok elektronik cenderung memiliki jumlah sperma yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak merokok. Selain kuantitas, motilitas atau kemampuan gerak sperma juga mengalami penurunan. Sperma yang tidak mampu bergerak secara lincah akan kesulitan membuahi sel telur, yang pada akhirnya meningkatkan risiko infertilitas atau kemandulan pada pria.
Kerusakan DNA dan Stres Oksidatif
Uap yang dihasilkan oleh rokok elektronik bukan sekadar uap air biasa. Proses pemanasan pada kawat atomizer menghasilkan aerosol yang mengandung radikal bebas dan logam berat. Ketika zat ini masuk ke dalam sistem peredaran darah, mereka memicu kondisi yang disebut stres oksidatif pada jaringan reproduksi.
Stres oksidatif ini menyebabkan kerusakan pada struktur DNA di dalam sel sperma. Kerusakan DNA sperma (fragmentasi DNA) tidak hanya menurunkan peluang kehamilan, tetapi juga dikaitkan dengan peningkatan risiko keguguran pada pasangan serta potensi gangguan kesehatan genetik pada keturunan di masa depan.