POLA JABAR - Selama bertahun-tahun, perdebatan mengenai dampak rokok elektronik atau vaping lebih banyak berpusat pada kesehatan paru-paru dan jantung. Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Gastroenterology Journal mulai menyingkap tabir lain yang tak kalah mengkhawatirkan: dampak destruktifnya terhadap saluran pencernaan.

Meskipun uap dari rokok elektrik masuk melalui sistem pernapasan, zat kimia yang terkandung di dalamnya memiliki akses sistemik yang dapat memengaruhi seluruh tubuh, termasuk lambung dan usus. Fenomena ini memicu kekhawatiran baru di kalangan praktisi kesehatan mengenai risiko penyakit pencernaan jangka panjang bagi para penggunanya.

Gangguan Lapisan Pelindung Usus (Gut Barrier)

Salah satu temuan paling signifikan dalam studi gastroenterologi adalah bagaimana paparan uap kimia dapat merusak integritas lapisan pelindung usus. Lapisan ini berfungsi sebagai penghalang untuk mencegah bakteri berbahaya dan racun masuk ke dalam aliran darah.

Zat kimia dalam cairan vape, terutama nikotin dan bahan tambahan seperti propilen glikol, dapat memicu kondisi yang dikenal sebagai "leaky gut" atau usus bocor. Ketika lapisan pelindung ini melemah, tubuh menjadi lebih rentan terhadap peradangan sistemik. Hal ini menjelaskan mengapa banyak pengguna vape sering mengeluhkan gangguan pencernaan ringan yang berkembang menjadi masalah kronis.

Ketidakseimbangan Mikrobioma Usus

Sistem pencernaan manusia adalah rumah bagi triliunan bakteri yang membantu proses metabolisme dan sistem kekebalan tubuh. Riset menunjukkan bahwa uap rokok elektrik secara drastis dapat mengubah komposisi mikrobioma usus (disbiosis).

Nikotin dalam vape diketahui dapat mengurangi populasi bakteri baik dan memicu pertumbuhan bakteri patogen. Ketidakseimbangan ini tidak hanya menyebabkan gangguan pencernaan seperti kembung dan diare, tetapi juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit peradangan usus kronis, seperti Penyakit Crohn dan Kolitis Ulseratif.

Peningkatan Asam Lambung dan Gerd