POLA JABAR - Di tengah popularitasnya sebagai gaya hidup modern, rokok elektronik atau vape terus memicu perdebatan di kalangan ilmuwan mengenai dampaknya terhadap kesehatan. Jika selama ini fokus utama kerusakan medis tertuju pada paru-paru dan jantung, penelitian terbaru mulai mengungkap sisi gelap lainnya: dampaknya terhadap otak. Melalui berbagai temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Neuroscience Letters, para ahli memperingatkan adanya risiko nyata terhadap sistem saraf pusat (SSP) akibat paparan uap nikotin cair secara kronis.

Paparan ini tidak hanya melibatkan nikotin, tetapi juga senyawa kimia kompleks yang mampu menembus sawar darah otak, memicu serangkaian respons biologis yang dapat mengubah struktur dan fungsi otak secara permanen.

Gangguan Sawar Darah Otak dan Peradangan Saraf

Sistem saraf pusat manusia dilindungi oleh sawar darah otak (blood-brain barrier), sebuah benteng pertahanan yang berfungsi menyaring zat berbahaya agar tidak masuk ke jaringan otak. Namun, uap rokok elektronik diketahui mengandung zat pro-inflamasi dan radikal bebas yang dapat merusak integritas benteng ini.

Studi dalam Neuroscience Letters menunjukkan bahwa paparan aerosol rokok elektronik dapat meningkatkan permeabilitas sawar darah otak. Ketika pertahanan ini melemah, zat-zat toksik dan sel imun dari aliran darah masuk ke dalam otak, memicu kondisi yang dikenal sebagai neuroinflamasi atau peradangan saraf. Peradangan kronis pada otak sering kali dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit neurodegeneratif di masa depan.

Stres Oksidatif pada Jaringan Otak

Otak adalah organ yang sangat sensitif terhadap stres oksidatif karena konsumsi oksigennya yang tinggi. Komponen kimia dalam cairan vape, termasuk logam berat seperti nikel dan timbal yang berasal dari elemen pemanas, dapat memicu produksi spesies oksigen reaktif (ROS).

Peningkatan ROS yang tidak terkendali menyebabkan kerusakan pada sel-sel saraf (neuron) dan sel pendukung lainnya (glia). Kerusakan ini mengganggu komunikasi antar-sel saraf, yang pada akhirnya dapat menghambat kemampuan otak untuk memproses informasi atau merespons stimulus eksternal dengan cepat.

Dampak pada Neuroplastisitas dan Fungsi Kognitif