POLA JABAR - Mangga, buah tropis yang terkenal dengan rasa manis dan tekstur lembutnya, seringkali menjadi godaan yang sulit ditolak, terutama saat musimnya tiba. Meskipun kaya akan vitamin dan antioksidan yang bermanfaat, konsumsi mangga yang melampaui batas wajar ternyata dapat memicu serangkaian efek samping yang patut diwaspadai, terutama bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu. 

Salah satu dampak paling signifikan dari mengkonsumsi mangga secara berlebihan berkaitan erat dengan kandungan gula alami yang tinggi di dalamnya. 

Sebanyak satu buah mangga berukuran sedang dapat mengandung puluhan gram gula, yang didominasi oleh fruktosa. Ketika asupan gula alami ini membanjiri sistem tubuh dalam waktu singkat, terutama jika tanpa diimbangi dengan makanan berserat lain yang memperlambat penyerapan, ia dapat menyebabkan lonjakan drastis pada kadar gula darah. 

Fenomena ini menjadi perhatian serius, terutama bagi penderita diabetes atau mereka yang berisiko mengalami resistensi insulin, di mana pankreas harus bekerja ekstra keras untuk melepaskan insulin demi menstabilkan glukosa yang melonjak tinggi.

Lebih jauh lagi, dampak negatif dari porsi mangga yang tidak terkontrol juga sangat terasa pada sistem pencernaan, yang merupakan salah satu efek samping paling umum yang dilaporkan. Mangga mengandung sejumlah besar serat makanan yang bermanfaat untuk melancarkan buang air besar, namun seperti prinsipnya, segala sesuatu yang berlebihan pasti tidak baik. 

Asupan serat yang terlalu tinggi dalam sekali waktu dapat menyebabkan gejala yang kurang menyenangkan seperti perut kembung, begah, gas berlebih, hingga diare. 

Kondisi ini diperparah oleh kandungan karbohidrat rantai pendek tertentu yang dikenal sebagai FODMAP (Fermentable Oligosaccharides, Disaccharides, Monosaccharides, and Polyols) yang ada pada mangga. Bagi orang yang sudah memiliki masalah pencernaan seperti Sindrom Iritasi Usus Besar (IBS), konsumsi FODMAP secara berlebihan dapat memperburuk gejala mereka secara signifikan, memicu kram perut dan ketidaknyamanan yang substansial karena proses fermentasi karbohidrat tersebut di usus.

Selain masalah internal yang berkaitan dengan metabolisme gula dan pencernaan, mangga juga dapat menimbulkan reaksi yang sifatnya alergi pada beberapa orang, yang menjadikannya efek samping yang unik dan perlu dipertimbangkan. 

Beberapa sumber kesehatan, termasuk WebMD, menyoroti bahwa kulit mangga mengandung senyawa yang disebut urushiol, yaitu minyak yang juga ditemukan pada tumbuhan beracun seperti poison ivy atau poison oak. Individu yang sensitif terhadap urushiol dapat mengalami reaksi alergi kontak yang dikenal sebagai dermatitis kontak, yang biasanya bermanifestasi sebagai ruam, gatal, atau bahkan pembengkakan di sekitar bibir dan mulut setelah mengonsumsi atau bahkan hanya menyentuh kulit mangga.