POLA JABAR - Selama beberapa tahun terakhir, rokok elektronik atau vape sering kali dipasarkan sebagai alternatif yang "lebih sehat" dibandingkan rokok konvensional. Namun, komunitas medis internasional terus menyuarakan kekhawatiran yang didukung oleh bukti-bukti klinis.
Salah satu laporan paling signifikan diterbitkan dalam European Heart Journal, yang mengungkapkan dampak serius penggunaan rokok elektronik terhadap sistem kardiovaskular, khususnya fungsi pembuluh darah.
Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun tidak melibatkan proses pembakaran tembakau, uap yang dihasilkan oleh perangkat elektronik tersebut mengandung zat yang mampu memicu perubahan fisiologis yang merugikan pada arteri manusia.
Fokus utama dari temuan para ahli adalah pada kesehatan endotel, yaitu lapisan tipis sel yang melapisi bagian dalam pembuluh darah. Endotel memiliki peran krusial dalam mengatur tekanan darah, mencegah penggumpalan, dan menjaga kelenturan pembuluh darah.
Studi dalam European Heart Journal menunjukkan bahwa paparan uap rokok elektronik secara signifikan mengganggu fungsi endotel ini. Ketika endotel tidak berfungsi dengan baik (disfungsi endotel), pembuluh darah menjadi kaku dan kehilangan kemampuannya untuk melebar secara alami. Kondisi ini merupakan tahap awal dari perkembangan aterosklerosis atau penyempitan arteri yang dapat memicu serangan jantung dan stroke di kemudian hari.
Mengapa uap vape bisa merusak jaringan pembuluh darah? Rahasianya terletak pada reaksi kimia yang terjadi saat cairan vape dipanaskan. Proses pemanasan ini menghasilkan radikal bebas dan molekul oksigen reaktif yang sangat tinggi.
Zat-zat kimia ini memicu kondisi yang disebut stres oksidatif dalam tubuh. Stres oksidatif secara langsung merusak enzim oksida nitrat sintase, yang bertugas memproduksi molekul penting untuk menjaga pembuluh darah tetap rileks.
Tanpa asupan oksida nitrat yang cukup, pembuluh darah akan terus berada dalam kondisi tegang, yang pada gilirannya meningkatkan tekanan darah sistemik.
Salah satu aspek yang paling mengkhawatirkan dari studi ini adalah kecepatan efeknya. Hanya dengan satu kali sesi penggunaan rokok elektronik, para peneliti mencatat adanya peningkatan kekakuan arteri secara langsung pada subjek penelitian. Hal ini membantah anggapan bahwa kerusakan hanya terjadi setelah penggunaan bertahun-tahun.