POLA JABAR - Banyak dari kita terbiasa memulai hari dengan segelas teh hangat atau air putih panas dengan perasan lemon. Selain memberikan rasa nyaman di perut, klaim bahwa air panas dapat "melunturkan lemak" atau mempercepat metabolisme telah beredar luas selama puluhan tahun. Namun, apa sebenarnya yang terjadi di dalam tubuh kita saat cairan bersuhu tinggi masuk ke sistem pencernaan?

Merujuk pada ulasan kesehatan dari Harvard Health Publishing dan berbagai studi fisiologi, pengaruh suhu air terhadap metabolisme tubuh ternyata berkaitan erat dengan prinsip termoregulasi.

Saat Anda meminum air panas, suhu internal tubuh akan mengalami kenaikan ringan. Untuk merespons perubahan ini, tubuh harus bekerja ekstra guna menurunkan suhu kembali ke titik normal (sekitar 37 derajat Celcius). Proses ini dikenal sebagai efek termogenik.

Meskipun peningkatannya tidak drastis, aktivitas tubuh dalam menstabilkan suhu ini memerlukan energi ekstra. Inilah yang secara teknis disebut sebagai peningkatan laju metabolisme basal. Tubuh membakar kalori lebih banyak hanya untuk memastikan organ-organ tetap berada pada suhu kerja yang optimal.

Bukan hanya soal angka di timbangan, konsumsi air panas memberikan dampak signifikan pada sistem internal lainnya yakni sebagai berikut:

1. Peningkatan Sirkulasi Darah 

Air panas bertindak sebagai vasodilator, yang berarti ia membantu memperlebar pembuluh darah. Hal ini meningkatkan sirkulasi dan membantu otot-otot menjadi lebih rileks. Aliran darah yang lancar memastikan distribusi oksigen dan nutrisi ke seluruh sel tubuh menjadi lebih efisien, yang secara tidak langsung mendukung fungsi metabolisme yang sehat.

2. Optimalisasi Sistem Pencernaan 

Para ahli sering mencatat bahwa air hangat dapat membantu memecah makanan lebih cepat daripada air dingin. Ia membantu melarutkan lemak yang masuk bersama makanan, mencegahnya menggumpal, dan mempermudah usus dalam menyerap nutrisi serta membuang sisa metabolisme.