POLA JABAR - Bagi banyak pemilik hewan peliharaan, melihat anjing kesayangan mereka dengan mulut yang sedikit terbuka, bibir yang tertarik ke belakang, dan lidah yang menjulur adalah momen yang secara naluriah diinterpretasikan sebagai senyum kebahagiaan murni, sebuah ekspresi langsung dari rasa puas dan gembira. Interpretasi ini tidak sepenuhnya salah, namun para ilmuwan dan ahli etologi yang mempelajari perilaku anjing menawarkan pandangan yang lebih bernuansa. 

Secara ilmiah, anjing tidak memiliki struktur otot wajah yang sama persis dengan manusia yang memungkinkan senyum sosial yang kompleks, di mana otot mata (orbicularis oculi) dan otot bibir (zygomatic major) berkontraksi untuk mengekspresikan kesenangan internal. Yang sering kita anggap sebagai senyum pada anjing yang melibatkan mulut terbuka dengan gigi yang kadang terlihat sebenarnya adalah hasil dari berbagai perilaku dan kebutuhan fisiologis, tetapi yang paling menarik adalah kemungkinan bahwa perilaku ini adalah respons adaptif yang dipelajari dari interaksi jangka panjang dengan manusia.

Fenomena yang sering disebut sebagai "senyum anjing" ini kemungkinan besar merupakan kombinasi antara ekspresi fisiologis dan komunikasi sosial yang diprogram ulang. Secara fisiologis, anjing sering membuka mulut dan menjulurkan lidah untuk mendinginkan diri melalui proses panting atau terengah-engah, terutama setelah bermain atau saat kepanasan. 

Kondisi mulut terbuka yang rileks ini, dikombinasikan dengan tatapan mata yang lembut saat berada di dekat pemiliknya, dapat menciptakan ilusi visual yang menyerupai senyum bahagia. Namun, studi perilaku menunjukkan bahwa ekspresi ini lebih sering muncul saat anjing berinteraksi langsung dengan manusia bukan dengan sesama anjing menandakan bahwa "senyum" ini adalah perilaku yang dikembangkan secara spesifik untuk berkomunikasi efektif dengan spesies manusia.

Penelitian dan pengamatan yang sering dibahas, termasuk ulasan dari The Guardian Pets Section, mengarah pada teori yang dikenal sebagai "senyum patuh" (submissive grin). Ekspresi ini ditunjukkan ketika anjing berada dalam situasi di mana mereka merasa sedikit cemas, atau ingin meredakan potensi ketegangan, seperti saat pemilik pulang atau saat mereka menghadapi orang asing yang memberi perhatian. Dalam konteks ini, anjing mungkin menarik bibirnya ke belakang, memperlihatkan gigi depan, tetapi disertai dengan bahasa tubuh yang meredakan, seperti telinga yang terkulai, posisi tubuh yang rendah, atau ekor yang bergoyang rendah. 

Ini adalah cara anjing mengatakan, "Aku bukan ancaman, aku ramah, dan aku patuh," sebuah strategi yang telah mereka pelajari sangat efektif untuk menghindari hukuman dan justru mendapatkan respons positif seperti belaian, pujian, atau hadiah makanan dari manusia, sehingga memperkuat perilaku 'tersenyum' tersebut.

Meskipun terdapat perbedaan signifikan antara senyum anjing dan senyum manusia, tidak dapat disangkal bahwa ekspresi ini adalah bentuk komunikasi yang sangat ampuh dan disengaja. 

Ekspresi wajah anjing telah terbukti lebih jelas dan lebih sering berubah ketika manusia sedang melihat mereka, sebuah bukti bahwa anjing memahami pentingnya kontak mata dan isyarat wajah dalam komunikasi lintas spesies. 

Oleh karena itu, sementara anjing mungkin tidak tersenyum karena alasan yang sama persis dengan manusia, tindakan yang mereka lakukan yang kita interpretasikan sebagai senyum adalah indikator kuat dari ikatan emosional yang dalam.