POLA JABAR - Mendengar kata "radioaktif" seringkali membangkitkan citra berbahaya, seperti reaktor nuklir, limbah beracun, atau bahkan ledakan bom atom, sehingga fakta bahwa buah sesederhana dan sepopuler pisang ternyata mengandung zat radioaktif alami menjadi sebuah informasi yang mengejutkan dan sering kali disalahpahami oleh masyarakat awam. 

Keunikan ini adalah sebuah realitas ilmiah yang menarik, di mana pisang secara inheren mengandung isotop yang dikenal sebagai Kalium-40. Kalium adalah mineral esensial yang diperlukan oleh tubuh manusia untuk menjaga fungsi jantung, menyeimbangkan cairan, dan mengatur tekanan darah. 

Karena pisang adalah salah satu sumber makanan yang kaya akan Kalium, secara otomatis pisang juga mengandung proporsi kecil dari isotop radioaktif alami ini. Namun, hal yang paling penting dan sering ditekankan oleh para ilmuwan adalah bahwa dosis radiasi yang dilepaskan dari sepotong pisang tersebut berada pada level yang sangat rendah dan sama sekali tidak menimbulkan ancaman kesehatan bagi konsumen.

Fenomena ini adalah pengingat yang menarik bahwa radiasi bukanlah konsep yang sepenuhnya buatan manusia, melainkan merupakan bagian tak terpisahkan dari alam semesta dan kehidupan sehari-hari kita. 

Kalium-40 adalah isotop yang telah ada sejak pembentukan Bumi, memiliki waktu paruh yang sangat panjang, dan ditemukan tidak hanya dalam pisang, tetapi juga dalam berbagai bahan makanan lain, seperti kentang, kacang-kacangan, dan bahkan pada tubuh manusia itu sendiri karena Kalium adalah unsur penting yang terdapat dalam otot dan jaringan kita. Ketika kita mengkonsumsi pisang, Kalium-40 yang terkandung di dalamnya akan mengalami peluruhan radioaktif secara spontan, melepaskan partikel radiasi beta dan sinar gamma dalam prosesnya. 

Akan tetapi, jumlah atom Kalium-40 yang meluruh sangatlah kecil, dan tubuh manusia telah berevolusi dengan mekanisme yang canggih untuk mempertahankan tingkat Kalium yang konstan. Ini berarti, Kalium radioaktif yang kita konsumsi dari pisang tidak akan menumpuk dalam jumlah berbahaya, melainkan akan disaring dan dikeluarkan oleh tubuh, menjaga keseimbangan kimiawi internal kita tetap stabil.

Dalam upaya untuk mendemistifikasi dan menjelaskan tingkat paparan radiasi yang sangat kecil ini kepada publik, komunitas ilmiah bahkan menciptakan sebuah konsep informal yang dikenal sebagai "Banana Equivalent Dose" (BED) atau Dosis Setara Pisang. BED adalah satuan yang digunakan untuk membandingkan tingkat radiasi dari berbagai sumber paparan, menunjukkan betapa kecilnya dosis radiasi yang diterima dari satu buah pisang diperkirakan hanya sekitar 0,1 mikrosievert (μSv). 

Konsep BED ini sering digunakan sebagai alat bantu edukasi untuk menggambarkan bahwa paparan radiasi yang kita terima setiap hari dari sumber-sumber alami jauh lebih besar dibandingkan dengan yang didapatkan dari mengonsumsi pisang. Sebagai contoh, radiasi yang kita terima saat melakukan perjalanan udara, terutama pada penerbangan jarak jauh, atau paparan harian dari gas radon yang ada di dalam rumah, jauh melampaui dosis yang berasal dari pisang.

Pisang mengandung sekitar 450 miligram Kalium, dan sebagian kecil dari total Kalium tersebut adalah isotop Kalium-40 yang bersifat radioaktif. Meskipun faktanya memang benar bahwa pisang memancarkan sedikit radiasi, jumlahnya sangatlah minim sehingga untuk mencapai dosis radiasi yang dianggap berbahaya secara klinis misalnya, setara dengan rontgen dada seseorang harus mengonsumsi jutaan buah pisang dalam waktu singkat.