POLA JABAR - Cabai rawit, meskipun ukurannya kecil, seringkali menjadi bintang utama dalam masakan Indonesia. Sensasi pedas yang dihasilkannya bukan hanya sebuah rasa biasa, melainkan pengalaman sensorik yang kompleks, seringkali disamakan dengan rasa terbakar.
Fakta menarik di balik sensasi ini adalah bahwa pedas bukanlah salah satu dari lima rasa dasar manis, asam, asin, pahit, dan umami melainkan respons langsung dari sistem saraf kita terhadap iritasi. Tubuh menafsirkannya sebagai rasa sakit atau bahaya.
Kunci dari sensasi pedas cabai rawit adalah senyawa aktif yang disebut kapsaisin (capsaicin). Kapsaisin terkonsentrasi di bagian plasenta cabai, yaitu jaringan tempat biji menempel.
Ketika kapsaisin bersentuhan dengan lidah dan mulut, ia tidak merangsang reseptor rasa. Sebaliknya, ia berinteraksi langsung dengan reseptor nyeri yang disebut TRPV1 (Transient Receptor Potential Vanilloid 1).
Menurut ulasan ilmiah yang dijelaskan oleh BBC Future, reseptor TRPV1 biasanya aktif ketika mendeteksi panas fisik, seperti saat Anda menyentuh benda panas, atau saat suhu tubuh melebihi 42 derajat Celcius.
Kapsaisin secara kimiawi meniru efek panas tersebut, sehingga otak menerima sinyal bahwa mulut Anda sedang "terbakar." Inilah yang menyebabkan mulut terasa panas, berkeringat, dan bahkan mata berair setelah mengonsumsi cabai rawit.
Efek Kapsaisin pada Otak dan Tubuh
1. Memicu Respon Darurat
Ketika reseptor nyeri TRPV1 teraktivasi oleh kapsaisin, otak merespons seolah-olah terjadi luka bakar. Sebagai respons darurat, tubuh melakukan beberapa hal: pembuluh darah melebar (menyebabkan wajah memerah dan berkeringat), dan air liur serta air mata diproduksi berlebihan sebagai upaya alami untuk membersihkan dan mendinginkan area yang terkena iritasi. Sensasi panas ini adalah sinyal palsu, tetapi reaksi tubuh terhadapnya adalah nyata.