POLA JABAR - Bagi banyak orang modern, kepiting mungkin hanyalah menu mewah di restoran seafood. Namun, jika kita menengok ke belakang, makhluk bercangkang keras ini memiliki kedudukan yang jauh lebih dalam. 

Dari meja makan para kaisar hingga penempatan bintang di langit, kepiting telah menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi besar sejarah manusia.

Sejarah mencatat bahwa ketergantungan manusia terhadap kepiting dimulai jauh sebelum peradaban modern terbentuk. Berdasarkan catatan sejarah yang dihimpun dari History.com, bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa manusia purba di wilayah pesisir telah mengkonsumsi krustasea ini sebagai sumber protein utama. 

Cangkang kepiting sering ditemukan di tumpukan sampah dapur purba (midden), yang membuktikan bahwa teknik menangkap kepiting telah dikuasai sejak ribuan tahun lalu.

Kemudahan akses di zona pasang surut menjadikan kepiting sebagai sumber pangan yang stabil bagi komunitas awal di Afrika dan Mediterania. Keberadaan mereka yang melimpah membantu manusia bertahan hidup di masa-masa sulit saat perburuan hewan besar gagal dilakukan.

Peran kepiting tidak berhenti di urusan perut. Dalam kebudayaan Yunani Kuno, kepiting muncul dalam mitologi yang sangat populer. Menurut narasi yang sering dibahas dalam ulasan sejarah di History.com, raksasa kepiting bernama Karkinos dikirim oleh Hera untuk mengganggu Heracles (Hercules) saat bertarung melawan Hydra. Meski kalah, keberanian kepiting tersebut diabadikan menjadi rasi bintang Cancer.

Ini menunjukkan bahwa manusia kuno melihat kepiting bukan sekadar hewan, melainkan simbol ketangguhan dan loyalitas. Pengaruh ini terbawa hingga ke sistem astrologi modern, di mana Cancer menjadi salah satu zodiak utama yang merepresentasikan sifat perlindungan dan emosi yang mendalam.

Memasuki abad pertengahan hingga era penjelajahan, kepiting mulai bergeser menjadi simbol status sosial. Di Jepang, misalnya, kepiting Heike (Heikeopsis japonica) dikeramatkan karena pola cangkangnya yang menyerupai wajah prajurit Samurai yang marah. Legenda lokal menyebutkan bahwa mereka adalah reinkarnasi dari prajurit yang gugur dalam pertempuran laut.

Di belahan dunia Barat, industri penangkapan kepiting mulai berkembang pesat pada abad ke-19. Teknologi pengalengan memungkinkan kepiting dinikmati oleh masyarakat yang tinggal jauh dari pesisir. History.com menyebutkan bahwa revolusi industri mengubah kepiting dari sekadar makanan lokal menjadi komoditas global yang menggerakkan ekonomi banyak kota pelabuhan di Amerika Serikat dan Eropa.