POLA JABAR - Konsep penuaan seringkali dikaitkan dengan faktor genetik dan lingkungan, namun ilmu pengetahuan modern telah mengungkap salah satu kontributor diet yang paling signifikan dan sering terabaikan yakni gula. Bukan hanya menyebabkan peningkatan berat badan atau diabetes, konsumsi gula berlebihan memainkan peran sentral dalam proses penuaan seluler melalui mekanisme yang dikenal sebagai glikasi. 

Glikasi adalah reaksi kimia yang terjadi ketika molekul gula, seperti glukosa atau fruktosa, menempel secara non-enzimatik pada protein atau lemak dalam aliran darah tanpa bantuan enzim. Reaksi awal ini kemudian memicu serangkaian perubahan yang akhirnya menghasilkan senyawa berbahaya yang dikenal sebagai Produk Akhir Glikasi Tingkat Lanjut atau Advanced Glycation End-products (AGEs). Senyawa AGEs inilah yang menjadi biang keladi di balik kerusakan jaringan dan percepatan penuaan, tidak hanya terbatas pada kulit, tetapi juga pada organ vital di seluruh tubuh.

Dampak paling terlihat dari glikasi adalah pada kulit, di mana ia secara langsung menargetkan protein struktural utama yang menjaga elastisitas dan kekencangan: kolagen dan elastin. Kolagen adalah protein yang paling melimpah di kulit, bertanggung jawab atas kekuatan struktural. 

Ketika molekul gula berikatan silang dengan serat kolagen melalui glikasi, kolagen yang tadinya fleksibel dan elastis menjadi kaku, rapuh, dan kehilangan kemampuannya untuk beregenerasi dengan baik. 

Proses ini diibaratkan seperti karamelisasi protein; gula merusak serat-serat tersebut, menyebabkan kulit kehilangan kekencangan, yang pada akhirnya memicu pembentukan kerutan, garis halus, dan kulit kendur (sugar sag). 

Penelitian dalam bidang dermatologi, yang sering disorot oleh publikasi seperti Dermatology Times, menggarisbawahi pentingnya pengendalian diet gula sebagai strategi antipenuaan yang efektif, sebab kerusakan akibat AGEs bersifat kumulatif seiring berjalannya waktu dan sulit untuk diperbaiki sepenuhnya.

Jangkauan kerusakan yang disebabkan oleh AGEs melampaui estetika kulit; senyawa ini juga memiliki efek merusak pada organ internal dan sistem kardiovaskular. Ketika AGEs menumpuk pada dinding pembuluh darah, ia dapat menyebabkan kekakuan arteri, yang merupakan faktor risiko utama penyakit jantung dan hipertensi. 

Lebih lanjut, glikasi juga merusak protein pada ginjal, yang dapat mengganggu fungsi filtrasi darah, dan merusak struktur sel saraf. Studi mendalam yang didukung oleh NIH Studies (National Institutes of Health) menunjukkan bahwa glikasi berperan penting dalam patogenesis komplikasi jangka panjang pada pasien diabetes (di mana kadar gula darah sangat tinggi), seperti nefropati (kerusakan ginjal), retinopati (kerusakan mata), dan neuropati (kerusakan saraf). 

Kerusakan glikatif pada protein seluler ini secara bertahap mengurangi efisiensi kerja sel, menghambat fungsi normal organ, dan pada dasarnya mempercepat penuaan biologis sel dan jaringan, membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit degeneratif terkait usia.