POLA JABAR - Perdebatan mengenai jenis gula yang paling aman untuk dikonsumsi merupakan topik yang hangat dalam dunia kesehatan, terutama mengingat lonjakan kasus penyakit metabolik yang dikaitkan dengan konsumsi gula berlebih. 

Secara fundamental, meskipun keduanya adalah karbohidrat sederhana yang dipecah oleh tubuh menjadi glukosa untuk energi, Gula Alami dan Gula Tambahan (atau gula rafinasi) memiliki dampak yang sangat berbeda pada fisiologi tubuh kita. 

Gula alami adalah gula yang secara inheren sudah ada dalam makanan utuh, seperti fruktosa dalam buah-buahan dan laktosa dalam produk susu murni. Karena gula ini hadir bersamaan dengan serat, vitamin, mineral, dan antioksidan lainnya, proses pencernaan dan penyerapannya di dalam tubuh menjadi lebih lambat dan bertahap. 

Perlambatan ini mencegah terjadinya lonjakan gula darah yang drastis, sehingga beban kerja pada pankreas (organ penghasil insulin) lebih ringan, menjadikannya pilihan yang jauh lebih aman bagi kesehatan metabolik secara keseluruhan.

Sebaliknya, Gula Tambahan adalah gula yang dimasukkan ke dalam makanan atau minuman selama proses pengolahan untuk meningkatkan rasa, tekstur, atau daya simpan. Ini mencakup gula pasir (sukrosa), sirup jagung fruktosa tinggi (High-Fructose Corn Syrup/HFCS), dekstrosa, hingga madu dan sirup maple yang ditambahkan secara berlebihan pada makanan olahan. 

Masalah utama dengan gula tambahan, seperti yang sering diulas oleh Healthline, adalah sifatnya yang "kalori kosong" menyediakan energi tinggi tanpa disertai nutrisi penting apa pun. Ketika kita mengkonsumsi minuman manis atau makanan olahan tinggi gula, tubuh mencerna dan menyerap gula tersebut dengan sangat cepat, yang memicu lonjakan tajam kadar gula darah dan pelepasan insulin dalam jumlah besar.

Konsumsi gula tambahan yang berlebihan secara kronis merupakan ancaman serius bagi kesehatan. Dampaknya bukan hanya sebatas peningkatan risiko diabetes tipe 2, tetapi juga berkontribusi besar pada masalah kesehatan jangka panjang lainnya. 

Menurut ulasan kesehatan dan nutrisi, asupan gula tambahan yang tinggi secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas karena kalori yang tidak terpakai disimpan sebagai lemak, terutama lemak visceral di area perut. 

Selain itu, kelebihan gula juga dapat memicu peradangan kronis dan meningkatkan kadar trigliserida dalam darah, yang secara signifikan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) serta dapat memicu gangguan pada hati seperti perlemakan hati non-alkoholik (Non-Alcoholic Fatty Liver Disease/NAFLD).