POLA JABAR - Fotografi Roh (Spirit Photography) adalah fenomena budaya dan visual yang meledak di pertengahan hingga akhir abad ke 19, sebuah era yang ditandai oleh kesedihan kolektif yang mendalam dan meningkatnya minat pada spiritualisme. Setelah Perang Saudara Amerika dan berbagai konflik global lainnya, jutaan keluarga berduka atas kehilangan orang-orang terkasih tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.
Dalam suasana kerinduan yang intens ini, spiritualisme keyakinan bahwa orang mati dapat berkomunikasi dengan yang hidup menjadi sangat populer, menawarkan harapan dan kenyamanan. Inilah lahan subur tempat Spirit Photography lahir.
Konsepnya sederhana namun revolusioner yakni kamera, yang saat itu dianggap sebagai alat objektif dan ilmiah untuk merekam kenyataan, diyakini mampu menangkap apa yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, yaitu sosok roh atau hantu yang mengelilingi orang yang difoto.
Fotografer mengklaim bahwa dengan metode khusus, mereka dapat mengabadikan bayangan almarhum yang berdiri di samping kerabat mereka yang masih hidup. Hal ini memberikan validasi "bukti visual" yang sangat emosional bagi para penganut spiritualisme.
Kemunculan Spirit Photography sangat erat kaitannya dengan kemajuan teknologi fotografi yang masih sangat baru pada saat itu, khususnya proses pelat basah kolodion (collodion wet plate). Proses ini melibatkan penggunaan pelat kaca yang dilapisi emulsi sensitif cahaya. Dalam tangan fotografer yang cerdik, proses ini sangat rentan terhadap trik manipulasi visual. Tokoh paling terkenal dalam sejarah Spirit Photography adalah William Mumler dari Boston.
Mumler, seorang pembuat perhiasan yang menjadi fotografer, mengklaim bahwa secara tidak sengaja ia berhasil menangkap citra "roh" dari sepupunya yang sudah meninggal pada tahun 1860-an. Trik utamanya adalah penggunaan eksposur ganda (double exposure).
Mumler akan memotret gambar 'roh' (biasanya sosok buram atau bayangan putih) pada pelat foto terlebih dahulu, dan kemudian menggunakan pelat yang sama untuk memotret klien yang membayar mahal. Hasilnya, muncul sosok buram yang tampak transparan berdiri di samping subjek, menciptakan ilusi visual yang sangat meyakinkan pada masa itu.
Meskipun kini kita mengetahui bahwa fenomena ini sepenuhnya adalah trik kamera, pada masanya Spirit Photography menimbulkan perdebatan sengit antara skeptis dan penganut spiritualisme. Bagi para skeptis dan komunitas fotografi profesional, karya Mumler dan para pengikutnya dipandang sebagai penipuan yang tidak etis (fraud) yang memanfaatkan kesedihan masyarakat.
Beberapa fotografer profesional bahkan mencoba mereplikasi trik Mumler untuk membuktikan penipuannya. Namun, bagi keluarga yang berduka, foto-foto itu adalah secercah harapan.