POLA JABAR - Banyak orang beralih ke rokok elektrik atau vaping dengan anggapan bahwa ini adalah alternatif yang lebih aman daripada rokok konvensional. Namun, penelitian terbaru mulai mengungkap sisi gelap dari kebiasaan ini yang jarang disadari oleh penggunanya: kerusakan sistematis pada kualitas tidur. Berdasarkan temuan yang dipublikasikan dalam Sleep Health Journal, terdapat korelasi kuat antara penggunaan vape dengan peningkatan risiko insomnia serta gangguan irama sirkadian.
Tidur bukan sekadar waktu istirahat, melainkan proses biologis krusial untuk pemulihan otak dan tubuh. Ketika kebiasaan vaping masuk ke dalam rutinitas harian, proses pemulihan ini sering kali terinterupsi oleh reaksi kimiawi di dalam sistem saraf.
Efek Stimulan Nikotin: Menjaga Otak Tetap Siaga
Masalah utama dari vaping terletak pada kandungan nikotin cair yang sering kali memiliki konsentrasi sangat tinggi. Nikotin adalah zat stimulan yang bekerja dengan memicu pelepasan adrenalin dan meningkatkan detak jantung serta tekanan darah.
Ketika seseorang melakukan vaping, terutama di sore atau malam hari, nikotin merangsang sistem saraf pusat untuk tetap berada dalam kondisi waspada (alertness).
Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan kebutuhan tubuh untuk rileks menjelang waktu tidur. Akibatnya, pengguna vape cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa terlelap (sleep latency).
Fragmentasi Tidur dan Penurunan Kualitas REM
Bukan hanya soal sulit tidur, vaping juga mempengaruhi apa yang terjadi setelah Anda berhasil memejamkan mata. Studi dalam Sleep Health Journal menunjukkan bahwa pengguna vape lebih sering mengalami fragmentasi tidur atau terbangun di tengah malam.
Nikotin memiliki masa paruh yang singkat, yang berarti efeknya menghilang dengan cepat dari tubuh. Bagi pengguna berat, hal ini bisa memicu gejala putus zat (withdrawal) ringan bahkan saat mereka sedang tidur.