POLA JABAR - Klaim mengenai "indra keenam," khususnya kemampuan untuk melihat atau merasakan kehadiran makhluk halus (hantu) yang tidak kasat mata, telah menjadi perdebatan sengit antara kepercayaan populer dan komunitas ilmiah selama berabad-abad.
Dalam budaya populer, istilah indra keenam sering diidentikkan dengan kemampuan supranatural seperti clairvoyance atau extrasensory perception (ESP), yang memungkinkan seseorang menerima informasi tanpa melalui panca indera normal.
Namun, dari sudut pandang ilmu pengetahuan modern, terutama neurologi dan psikologi kognitif, kemampuan yang diklaim sebagai indra keenam ini dapat dijelaskan melalui mekanisme otak yang kompleks, di mana sensasi melihat hantu lebih sering dikaitkan dengan fenomena kognitif, efek lingkungan, atau kondisi fisiologis tertentu.
Salah satu penjelasan ilmiah terkuat untuk fenomena "merasa ada kehadiran" (sensed presence) atau bahkan "melihat penampakan" berasal dari studi neurologis mengenai fungsi otak. Penelitian menunjukkan bahwa area otak yang disebut Anterior Cingulate Cortex (ACC), yang terletak di bagian depan otak, memainkan peran penting.
ACC berfungsi sebagai sistem peringatan dini, memantau perubahan kecil di lingkungan dan menghasilkan respons firasat atau perasaan bahaya, bahkan sebelum informasi tersebut diproses secara sadar. Sensitivitas yang lebih tinggi dari ACC pada beberapa individu dapat membuat mereka lebih cepat merasakan anomali lingkungan, yang kemudian diinterpretasikan oleh otak sebagai ancaman atau kehadiran supranatural, terutama dalam konteks kepercayaan sosial yang sudah ada.
Selain itu, gangguan pada lobus temporal otak, akibat kondisi medis tertentu, juga telah dikaitkan dengan pengalaman seperti melihat kilatan cahaya, mendengar suara yang tidak ada, atau merasakan kehadiran seseorang, fenomena yang sering disalah artikan sebagai interaksi dengan dunia gaib.
Selain respons internal otak, faktor-faktor lingkungan fisik juga terbukti secara ilmiah dapat memicu sensasi yang menyerupai pengalaman paranormal. Salah satu faktor penting adalah Infrasound, yaitu gelombang suara frekuensi sangat rendah (di bawah 20 Hz) yang tidak dapat didengar oleh telinga manusia tetapi dapat dirasakan oleh tubuh.
Studi yang dilakukan oleh peneliti seperti Tandy dan Lawrence (1998) menunjukkan bahwa paparan Infrasound dapat menyebabkan gejala fisik aneh pada manusia, seperti perasaan diawasi, kecemasan, perubahan pola napas, bahkan ilusi visual berupa bayangan (shadow people), yang seringkali dihubungkan dengan kehadiran hantu.
Selain itu, Medan Elektromagnetik (EMF) yang tidak teratur atau tiba-tiba di suatu area juga dihipotesiskan dapat mempengaruhi aktivitas lobus temporal otak, memicu perasaan pusing, mual, atau sensasi aneh yang kemudian diinterpretasikan secara budaya sebagai kehadiran spiritual.