POLA JABAR – Rasa mual saat naik pesawat merupakan keluhan yang cukup umum dialami penumpang, terutama saat lepas landas, turbulensi, maupun ketika pesawat mulai mendarat.
Kondisi ini sebenarnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari fisiologis, lingkungan kabin, hingga kondisi psikologis penumpang itu sendiri.
Salah satu penyebab utama mual di pesawat adalah ketidakseimbangan antara apa yang dilihat mata dan apa yang dirasakan tubuh.
Saat pesawat bergerak atau berguncang, tubuh merasakan perubahan posisi, tetapi mata sering kali tidak melihat pergerakan tersebut karena berada di dalam kabin. Ketidaksinkronan sinyal inilah yang memicu motion sickness.
Tekanan udara dan perubahan ketinggian juga turut memengaruhi kondisi tubuh. Ketika pesawat naik atau turun, telinga tengah membutuhkan waktu untuk menyesuaikan tekanan.
Jika proses ini terlambat, dapat timbul pusing, rasa penuh di telinga, dan mual. Selain itu, udara kabin yang lebih kering dan kadar oksigen yang lebih rendah dibandingkan permukaan tanah membuat sebagian orang lebih mudah merasa tidak nyaman.
Faktor lain yang sering tidak disadari adalah kecemasan atau rasa takut terbang. Ketegangan berlebih dapat memicu gejala fisik seperti mual, pusing, dan keringat dingin.
Pola makan sebelum terbang misalnya makan terlalu berat, berminyak, atau minum kafein berlebihan juga dapat memperparah gejala.
Dengan memahami berbagai penyebab ini, penumpang dapat mempersiapkan diri lebih baik untuk mengurangi risiko mual saat berada di dalam pesawat.***