POLA JABAR - Hubungan antara kadar gula darah yang tidak terkontrol dan penurunan fungsi kognitif, termasuk peningkatan risiko demensia, semakin mendapat perhatian dalam studi neurologis. Kadar gula darah yang tinggi secara kronis dapat menyebabkan peradangan di seluruh tubuh, termasuk otak, serta merusak pembuluh darah kecil yang memasok nutrisi penting ke sel-sel otak.
Dalam konteks pencegahan demensia dan penyakit terkait usia lainnya, menjaga kadar gula darah tetap stabil bukan sekadar keharusan bagi penderita diabetes, melainkan strategi proaktif bagi setiap individu yang ingin mendukung kesehatan otak mereka di masa depan.
Perubahan diet yang berfokus pada penurunan beban glikemik dan peningkatan asupan nutrisi pelindung otak terbukti efektif dalam mencapai tujuan ganda ini, sejalan dengan rekomendasi yang disampaikan oleh berbagai lembaga penelitian terkemuka.
Langkah praktis pertama yang direkomendasikan adalah melakukan penggantian karbohidrat sederhana dengan yang lebih kompleks. Mengurangi asupan makanan dan minuman yang mengandung gula tambahan, seperti soda, jus kemasan, permen, dan makanan ringan olahan, adalah langkah awal yang krusial.
Karbohidrat sederhana ini menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat, yang diikuti oleh penurunan tajam, menciptakan fluktuasi yang merugikan baik bagi energi fisik maupun stabilitas kognitif. Gantilah sumber karbohidrat tersebut dengan biji-bijian utuh seperti oats, quinoa, roti gandum utuh, dan beras merah.
Makanan ini memiliki indeks glikemik yang lebih rendah, yang berarti mereka dicerna lebih lambat, memastikan pelepasan glukosa ke dalam aliran darah yang lebih bertahap dan terkontrol. Strategi ini membantu otak mendapatkan pasokan energi yang stabil tanpa mengalami "kelebihan beban" gula.
Perubahan diet spesifik selanjutnya yang sangat disarankan untuk mendukung stabilitas gula darah dan kesehatan otak adalah peningkatan asupan serat larut dan lemak sehat.
Serat larut, yang banyak ditemukan dalam kacang-kacangan, biji-bijian, apel, dan buah berry, berfungsi memperlambat penyerapan gula di usus, yang secara langsung membantu menstabilkan kadar gula darah setelah makan. Sementara itu, lemak sehat, terutama asam lemak Omega-3, berperan vital dalam menjaga integritas struktural sel-sel otak dan mengurangi peradangan.
Sumber-sumber lemak sehat meliputi ikan berlemak seperti salmon, sarden, dan makarel, serta alpukat, minyak zaitun extra virgin, dan kacang kenari. Mengadopsi pola makan yang kaya akan lemak sehat, seperti yang ditekankan dalam studi yang didukung oleh Alzheimer’s Research UK, diketahui membantu melindungi neuron dari kerusakan oksidatif dan mendukung komunikasi antar sel saraf.