POLA JABAR - Di tengah dominasi gawai pintar yang mampu menunjukkan waktu dengan akurasi hingga sepersekian detik, eksistensi jam tangan mekanis seharusnya sudah lama meredup. Namun, realitas yang terjadi justru sebaliknya. 

Mengacu pada laporan tren gaya hidup dari Forbes, industri jam tangan terutama kelas menengah ke atas justru mengalami kebangkitan yang signifikan. Jam tangan kini telah bertransformasi dari sekadar alat penunjuk waktu menjadi instrumen perubahan gaya hidup dan pernyataan status sosial.

Pada dekade lalu, jam tangan dianggap sebagai alat utilitas. Namun, seiring dengan munculnya smartphone, fungsi teknis jam tangan telah digantikan. Perubahan gaya hidup ini membuat jam tangan naik kelas menjadi sebuah karya seni dan aset investasi.

Bagi banyak profesional modern, mengenakan jam tangan bukan lagi tentang mengetahui pukul berapa sekarang, melainkan tentang menghargai warisan keahlian (craftsmanship). Perubahan perilaku konsumen menunjukkan bahwa orang kini membeli jam tangan karena nilai intrinsik, kelangkaan, dan potensi nilai jual kembalinya di masa depan. Gaya hidup konsumtif perlahan berubah menjadi gaya hidup investasi yang terkurasi.

Gaya hidup bekerja telah berubah drastis, terutama dengan populernya budaya work from home dan pakaian kantor yang semakin santai. Di tengah tren busana kasual seperti hoodie dan sneakers, jam tangan seringkali menjadi satu-satunya elemen "serius" dalam penampilan seseorang.

Dalam pertemuan bisnis atau acara formal, jam tangan berfungsi sebagai bahasa visual yang halus namun kuat. Arloji yang melingkar di pergelangan tangan mencerminkan kedisiplinan, perhatian terhadap detail, dan apresiasi terhadap kualitas tiga pilar yang sangat dihargai dalam gaya hidup profesional kelas atas. Ini adalah cara seseorang menunjukkan identitas tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun.

Sisi lain dari perubahan gaya hidup adalah munculnya kategori smartwatch. Jika jam tangan mekanis mewakili sisi prestise dan tradisi, jam tangan pintar mewakili pergeseran gaya hidup ke arah kesadaran kesehatan.

Integrasi pemantau detak jantung, pola tidur, hingga tingkat stres dalam sebuah arloji telah mengubah cara orang berinteraksi dengan tubuh mereka. Jam tangan bukan lagi benda pasif; ia menjadi asisten pribadi yang mendorong gaya hidup aktif. Bagi masyarakat urban yang dinamis, jam tangan adalah pusat kendali informasi yang memungkinkan mereka tetap terkoneksi tanpa harus terus-menerus memegang ponsel.

Ada tren menarik di mana masyarakat mulai merasakan kelelahan digital (digital fatigue). Dalam gaya hidup yang serba cepat dan terpapar layar selama belasan jam sehari, jam tangan analog menawarkan sesuatu yang sangat dicari: ketenangan.