POLA JABAR - Kelinci! Siapa yang tak gemas dengan mamalia berbulu halus ini? Di Indonesia, istilah "kelinci" seringkali kita gunakan untuk merujuk pada semua hewan lucu dengan telinga panjang yang melompat-lompat, baik yang tinggal di pekarangan rumah maupun yang berkeliaran di alam liar.
Namun, tahukah Anda bahwa secara biologis, ada perbedaan fundamental antara hewan yang kita sebut Kelinci (Rabbit) dan Terwelu (Hare)? Perbedaan ini sangat mendasar, mulai dari cara mereka dilahirkan, bentuk fisik, hingga tempat mereka membangun sarang.
Memahami perbedaan ini tidak hanya menambah wawasan kita tentang keanekaragaman alam, tetapi juga krusial bagi para pecinta hewan peliharaan agar tidak salah dalam merawat jenis kelinci yang ada di rumah, yang sejatinya sudah melalui proses domestikasi selama ribuan tahun, jauh berbeda dengan kerabat liarnya.
Perbedaan yang paling mengejutkan dan seringkali menjadi penentu utama terletak pada proses kelahiran dan tingkat kematangan bayi mereka. Bayi Kelinci terlahir dalam kondisi yang sangat rentan atau dikenal sebagai altricial. Mereka lahir tanpa bulu (telanjang), mata tertutup (buta), dan tidak berdaya sama sekali, bergantung sepenuhnya pada induknya untuk kehangatan dan makanan.
Kondisi ini membuat induk kelinci harus membangun sarang yang aman dan tersembunyi, biasanya di dalam lubang tanah yang mereka gali, demi melindungi anak-anaknya dari predator.
Sebaliknya, bayi Terwelu terlahir dalam kondisi yang disebut precocial. Mereka lahir sudah ditumbuhi bulu, mata sudah terbuka, dan yang paling luar biasa, mereka sudah bisa berlari atau bergerak aktif hanya dalam waktu satu jam setelah dilahirkan! Adaptasi ini menunjukkan betapa berbedanya strategi bertahan hidup kedua hewan ini di alam liar, di mana Terwelu tidak menggali lubang, melainkan membuat sarang sederhana (disebut form) di atas permukaan tanah, yang menuntut bayinya untuk segera mandiri.
Secara fisik, kita juga bisa dengan mudah membedakan keduanya, terutama ketika sudah dewasa. Terwelu umumnya memiliki tubuh yang lebih besar dan kaki belakang yang jauh lebih panjang dibandingkan dengan kelinci.
Adaptasi kaki panjang ini memungkinkan Terwelu untuk berlari dengan kecepatan tinggi dan zig-zag, menjadikannya spesialis dalam melarikan diri dari kejaran predator. Perhatikan juga bagian telinga mereka.
Telinga Terwelu cenderung lebih panjang dengan ujung berwarna hitam, yang bukan hanya berfungsi untuk mendengar, tetapi juga membantu melepaskan panas tubuh, sebuah mekanisme penting untuk hewan yang menghabiskan lebih banyak waktu di atas tanah terbuka.