POLA JABAR - Banyak dari kita yang menganggap bahwa semakin kuat kita menyikat gigi dan semakin keras bulu sikat yang digunakan, maka gigi akan semakin bersih. Sayangnya, anggapan ini adalah kekeliruan besar yang justru bisa merusak investasi jangka panjang kesehatan mulut kita: enamel gigi.

Enamel adalah lapisan terluar gigi yang paling keras, bahkan lebih keras dari tulang. Namun, meski sangat kuat, enamel tidak memiliki sel hidup untuk memperbaiki dirinya sendiri jika sudah terkikis. Begitu enamel hilang, ia hilang selamanya. Pertanyaannya, benarkah jenis bulu sikat gigi memiliki pengaruh signifikan terhadap kerusakan ini?

Mengapa Bulu Sikat Gigi Sangat Berpengaruh?

Berdasarkan laporan kesehatan dari Harvard Health Publishing, pemilihan bulu sikat gigi bukan sekadar masalah selera. Para ahli sangat menekankan penggunaan sikat gigi berbulu lembut (soft bristles). Mengapa demikian?

Bulu sikat yang keras (hard atau medium) memang terasa lebih "mantap" saat menyapu sisa makanan. Namun, jika dikombinasikan dengan teknik menyikat yang terlalu bertenaga, bulu sikat ini bertindak layaknya amplas pada permukaan kayu. Secara perlahan namun pasti, bulu sikat yang kaku akan mengikis lapisan enamel. Kondisi ini secara medis dikenal sebagai abrasi gigi.

Dampak Terkikisnya Enamel

Ketika enamel mulai menipis akibat gesekan sikat gigi yang kasar, lapisan di bawahnya yang bernama dentin akan terekspos. Dentin memiliki saluran-saluran kecil yang terhubung langsung ke saraf gigi. Inilah alasan mengapa Anda tiba-tiba merasa ngilu yang tajam saat mengonsumsi makanan manis, panas, atau dingin.

Selain rasa ngilu, kerusakan enamel akibat bulu sikat yang salah juga bisa memicu resesi gusi. Gusi akan mulai "turun" atau menjauh dari mahkota gigi, sehingga akar gigi yang sensitif menjadi terbuka.

Rekomendasi dari Pakar Harvard