POLA JABAR - Bagi banyak orang, secangkir teh adalah ritual harian yang menenangkan. Namun, tahukah Anda bahwa teh hijau, teh hitam, dan teh oolong sebenarnya berasal dari spesies tanaman yang sama? Ketiganya lahir dari daun Camellia sinensis.
Perbedaan mencolok dalam rasa, aroma, warna, hingga kandungan nutrisinya bukan disebabkan oleh jenis tanamannya, melainkan cara daun-daun tersebut diproses setelah dipetik. Variabel utamanya adalah tingkat oksidasi reaksi kimia yang terjadi saat enzim dalam daun berinteraksi dengan oksigen.
Seperti dilansir dari healthline inilah perbedaan karakter teh yang harus diketahui sebelum Anda memilih untuk meminum teh.
1. Teh Hijau: Kesegaran Alami Tanpa Oksidasi
Teh hijau dikenal sebagai jenis teh yang paling mendekati kondisi asli daun saat masih di pohon. Untuk mencegah terjadinya oksidasi, daun teh yang baru dipetik segera dipanaskan baik dengan cara dikukus (metode Jepang) atau disangrai di atas wajan panas (metode Cina).
Karakteristik: Berwarna kuning kehijauan dengan aroma rumput yang segar atau sedikit nutty.
Nutrisi Unggulan: Karena tidak melalui proses oksidasi, teh hijau sangat kaya akan katekin, terutama epigallocatechin gallate (EGCG). Senyawa ini merupakan antioksidan kuat yang dikaitkan dengan peningkatan metabolisme dan kesehatan jantung.
2. Teh Hitam: Kekuatan Oksidasi Sempurna
Berlawanan dengan teh hijau, teh hitam melalui proses oksidasi yang sepenuhnya (full fermentation). Daun teh dibiarkan layu, digulung, dan didiamkan hingga berubah warna menjadi cokelat gelap atau hitam sebelum akhirnya dikeringkan.