POLA JABAR - Isu mengenai bahaya alat tangkap ikan terhadap biota laut, khususnya penyu, telah menjadi perhatian serius di kancah konservasi global, dan salah satu ancaman paling mematikan datang dari fenomena yang dikenal sebagai jaring hantu (ghost nets) dan praktik bycatch atau tangkapan sampingan. Jaring hantu adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada jaring, tali, pukat, atau alat tangkap lainnya yang hilang, dibuang, atau ditinggalkan di lautan oleh kapal penangkap ikan.
Karena terbuat dari bahan sintetis yang tahan lama, jaring-jaring ini dapat terus mengambang atau tenggelam di kolom air selama puluhan hingga ratusan tahun. Jaring yang hilang ini berubah menjadi jebakan mematikan yang tidak terlihat, melayang di sepanjang arus laut dan menjerat segala macam kehidupan laut, mulai dari ikan, mamalia laut, hingga penyu yang tidak beruntung.
Penyu yang terperangkap dalam jeratan ini seringkali mengalami cedera parah, luka amputasi, atau yang paling umum, tenggelam, karena mereka adalah reptil yang wajib naik ke permukaan untuk bernapas.
Selain jaring hantu, penyu laut juga sangat rentan terhadap praktik tangkapan sampingan (bycatch) dari kegiatan penangkapan ikan yang aktif. Penyu, yang seringkali memiliki habitat mencari makan yang sama dengan area penangkapan ikan komersial, terjebak secara tidak sengaja dalam berbagai jenis alat tangkap, seperti pukat udang, jaring insang (gillnets), dan bahkan pancing jarak jauh (longlines).
Sifat alami penyu sebagai hewan yang bernapas dengan paru-paru membuat mereka harus secara teratur naik ke permukaan air. Ketika mereka terperangkap dan tidak dapat mencapai permukaan sebuah skenario yang sangat umum terjadi ketika mereka tersangkut dalam jaring pukat dasar laut atau jaring insang yang tidak dipantau mereka akan mengalami kekurangan oksigen dan mati lemas dalam hitungan menit.
Insiden bycatch ini menjadi salah satu penyebab utama kematian penyu laut di seluruh dunia, yang secara signifikan menghambat upaya pemulihan populasi spesies yang sebagian besar sudah masuk dalam kategori rentan hingga sangat terancam punah.
Bahaya yang ditimbulkan oleh alat tangkap ikan ini diperburuk oleh karakteristik biologis penyu itu sendiri, yaitu siklus hidupnya yang panjang, tingkat reproduksi yang lambat, dan waktu kematangan seksual yang lama. Hilangnya satu penyu dewasa karena jeratan jaring dapat berdampak signifikan pada kesehatan populasi secara keseluruhan.
Selain itu, jaring ikan juga menimbulkan ancaman melalui mekanisme lain, yaitu penelanan plastik. Saat jaring mulai rusak, serpihan plastik mikro dan makro yang dilepaskannya dapat tertelan oleh penyu.
Partikel-partikel ini dapat mengisi perut penyu, memberikan rasa kenyang palsu yang mengakibatkan malnutrisi, menghambat pencernaan, atau bahkan menyebabkan penyumbatan usus yang fatal.