POLA JABAR - Jeruk, dengan warna cerah dan bentuknya yang bulat sempurna, telah lama melampaui fungsinya sebagai sekadar sumber Vitamin C. Di berbagai belahan dunia, terutama di Asia Timur, buah ini menjelma menjadi simbol keberuntungan, kesuburan, dan yang paling utama, kemakmuran. 

Transformasi jeruk dari hasil panen biasa menjadi ikon kekayaan melibatkan perpaduan sejarah, warna yang memikat, dan interpretasi budaya yang mendalam.

Jauh sebelum tersedia sepanjang tahun di supermarket, jeruk adalah komoditas langka. Pada masa lalu, menanam dan mengangkut buah-buahan subtropis ini ke iklim dingin membutuhkan sumber daya, waktu, dan modal yang besar. 

Hanya kaum berada atau bangsawan yang mampu menikmati jeruk segar, terutama pada musim dingin. Kelangkaan dan kesulitan dalam mendapatkannya inilah yang awalnya menempelkan stigma mewah dan kekayaan pada buah tersebut.

Simbolisme Warna Emas dan Bentuk Bulat

Menurut perspektif antropologi budaya seperti yang sering diulas oleh National Geographic kekuatan simbolis jeruk terletak pada dua elemen visual utamanya: warna dan bentuk. 

Warna oranye atau kuning keemasan pada jeruk secara universal diasosiasikan dengan emas. Emas adalah standar kekayaan, kekuasaan, dan kemakmuran finansial. Menyajikan atau memajang jeruk selama perayaan diyakini akan "menarik" kekayaan emas ke dalam rumah tangga.

Selain warna, bentuknya yang bulat sempurna juga memiliki makna mendalam. Bentuk lingkaran melambangkan keutuhan, kesempurnaan, dan siklus keberuntungan yang tiada akhir. 

Dalam konteks kemakmuran, bentuk bulat jeruk menyerupai koin emas kuno. Dengan demikian, menumpuk jeruk di mangkuk saat festival diinterpretasikan sebagai menumpuk kekayaan. Simbolisme ini menjadikannya hadiah yang wajib ada, diyakini dapat membawa rezeki dan harapan baik sepanjang tahun.