POLA JABAR - Kacang almond telah lama dikenal sebagai camilan sehat bagi mereka yang peduli dengan berat badan. Namun, manfaatnya jauh melampaui sekadar urusan kalori. Berbagai riset yang dihimpun oleh National Institutes of Health (NIH) menunjukkan bahwa almond adalah salah satu sumber antioksidan paling terkonsentrasi di alam yang berperan penting dalam melawan stres oksidatif.

Stres oksidatif sendiri merupakan kondisi di mana radikal bebas merusak molekul dalam sel, yang jika dibiarkan, dapat memicu peradangan kronis hingga mempercepat penuaan dan risiko penyakit degeneratif.

Vitamin E: Sang Pelindung Dinding Sel

Salah satu temuan kunci yang sering ditekankan adalah kandungan Vitamin E dalam almond. Almond termasuk dalam jajaran sumber Vitamin E (khususnya alpha-tocopherol) terbaik di dunia. Satu ons almond (sekitar 23 butir) sudah mampu memenuhi hampir setengah dari kebutuhan harian orang dewasa.

Berbeda dengan antioksidan lainnya, Vitamin E adalah antioksidan larut lemak yang bekerja spesifik melindungi dinding sel dari kerusakan. Dengan menjaga integritas sel, Vitamin E berperan besar dalam mencegah oksidasi kolesterol jahat (LDL), yang merupakan langkah awal terjadinya penyumbatan pembuluh darah atau aterosklerosis.

Rahasia di Balik Kulit Cokelat Almond

Banyak orang sering mengonsumsi almond yang sudah dikupas kulitnya demi tekstur yang lebih halus. Namun, studi yang dirujuk oleh para ahli kesehatan menyarankan sebaliknya. Kandungan antioksidan terbesar pada almond justru terkumpul di lapisan kulit tipis berwarna cokelat tersebut.

Kulit almond kaya akan polifenol, termasuk flavonoid yang bekerja sinergis dengan Vitamin E. Kombinasi ini memberikan perlindungan ganda bagi tubuh. Flavonoid dalam kulit almond diketahui memiliki sifat anti-inflamasi yang kuat, membantu tubuh meredam peradangan setelah beraktivitas berat atau terpapar polusi lingkungan.

Menurunkan Risiko Penyakit Kronis