POLA JABAR - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi medis dan obat-obatan sintetis, dunia kini justru kembali melirik ke jendela masa lalu. Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 80% populasi di negara berkembang masih mengandalkan pengobatan tradisional, yang mayoritas berbasis tanaman, untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dasar mereka.

Tanaman obat bukan lagi dianggap sebagai alternatif kelas dua. Sebaliknya, mereka adalah fondasi dari sistem kesehatan yang inklusif, terjangkau, dan berkelanjutan.

Salah satu alasan utama mengapa WHO mendorong penguatan sistem kesehatan tradisional adalah masalah akses. Di banyak wilayah terpencil di dunia, klinik medis modern mungkin berjarak ratusan kilometer, namun "apotek hidup" tersedia tepat di halaman rumah atau hutan sekitar.

WHO menekankan bahwa tanaman obat memberikan solusi bagi masyarakat yang sulit menjangkau obat-obatan mahal. Dengan standarisasi yang tepat, tanaman seperti jahe, kunyit, hingga temulawak bukan hanya menjadi bumbu dapur, melainkan instrumen penting dalam menjaga imunitas dan mengobati penyakit ringan secara mandiri (self-care).

Kontribusi terhadap Farmakologi Modern

Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa banyak obat penyelamat jiwa yang kita konsumsi hari ini berakar dari pengetahuan tradisional. WHO mencatat bahwa tanaman obat adalah laboratorium alami yang telah memberikan bahan baku untuk obat-obatan penting.

Sebagai contoh, Artemisin yang digunakan untuk melawan Malaria berasal dari tanaman Artemisia annua yang telah digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok selama ribuan tahun. Begitu pula dengan Aspirin yang jejaknya bisa ditarik kembali ke kulit kayu pohon dedalu (willow bark). Ini membuktikan bahwa sistem kesehatan tradisional dan modern bukanlah dua kutub yang berlawanan, melainkan mitra yang saling melengkapi.

Standarisasi dan Keamanan: Prioritas WHO

Meskipun memiliki potensi besar, WHO juga mengingatkan bahwa "alami tidak selalu berarti aman." Inilah mengapa peran sistem kesehatan tradisional saat ini sedang diarahkan pada jalur saintifik. WHO melalui Traditional Medicine Strategy fokus pada tiga pilar utama: