POLA JABAR - Anjing terapi, yang secara luas dikenal sebagai bagian dari Intervensi Berbantuan Hewan (Animal-Assisted Intervention), telah lama diakui bukan hanya sebagai sekadar pendamping, tetapi sebagai agen penyembuhan yang efektif dalam konteks kesehatan mental, terutama bagi individu yang bergumul dengan Depresi dan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). 

Berbeda dengan anjing penolong (service dogs) yang dilatih untuk tugas fisik spesifik bagi penyandang disabilitas, anjing terapi berfungsi untuk memberikan dukungan emosional dan kenyamanan. Kekuatan terapi ini terletak pada ikatan unik antara manusia dan anjing, yang memicu respons neurokimia yang mendalam di otak manusia. 

Interaksi sederhana seperti mengelus, memeluk, atau bahkan sekadar kehadiran anjing telah terbukti memicu pelepasan oksitosin, hormon yang sering disebut "hormon cinta" atau "hormon ikatan". Peningkatan oksitosin ini secara langsung menekan kadar kortisol, hormon stres utama, dalam tubuh, sehingga secara fisiologis menciptakan rasa ketenangan dan relaksasi yang sangat dibutuhkan oleh penderita depresi atau PTSD.

Bagi individu yang menderita Depresi, salah satu tantangan terbesar adalah hilangnya motivasi, rasa isolasi, dan kesulitan menemukan tujuan hidup. Di sinilah peran anjing terapi menjadi sangat krusial; seekor anjing terapi menuntut rutinitas dan tanggung jawab, seperti memberi makan, mengajaknya berjalan, dan merawatnya. Tanggung jawab harian yang konsisten ini berfungsi sebagai motivator positif yang lembut, memaksa individu untuk berinteraksi dengan dunia luar dan membangun kembali struktur harian yang sering kali hilang akibat depresi. 

Selain itu, anjing menawarkan cinta tanpa syarat dan persahabatan yang konstan. Kehadiran anjing yang setia dan tidak menghakimi dapat secara efektif mengurangi perasaan kesepian dan isolasi, yang menurut banyak laporan klinis yang diulas oleh Medical News Today, merupakan salah satu faktor pemicu utama yang memperburuk gejala depresi.

Sementara itu, untuk kasus Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), peran anjing terapi sering kali ditingkatkan menjadi anjing layanan PTSD yang dilatih secara spesifik untuk mendeteksi dan merespons krisis. 

Penderita PTSD sering mengalami flashback, serangan panik, atau mimpi buruk yang intens. Anjing terapi dilatih untuk mengenali perubahan halus dalam bahasa tubuh, pernapasan, atau bahkan bau badan pawangnya yang mengindikasikan datangnya kecemasan atau serangan. Misalnya, anjing dapat dilatih untuk membangunkan pawang dari mimpi buruk dengan sentuhan lembut, memberikan tekanan yang dalam pada tubuh untuk menenangkan serangan panik (deep pressure therapy), atau menciptakan ruang penyangga fisik di tempat umum untuk mengurangi rasa cemas yang timbul di keramaian. 

Kehadiran fisik anjing yang dapat diandalkan ini memberikan rasa aman dan kontrol yang sangat penting bagi veteran perang atau korban trauma, membantu mereka kembali berinteraksi di lingkungan sosial tanpa rasa cemas berlebihan.

Secara psikologis, anjing terapi bertindak sebagai titik fokus yang menenangkan dan pengalih perhatian positif dari pikiran-pikiran traumatis yang mengganggu. Penderita PTSD dan Depresi seringkali terperangkap dalam lingkaran ruminasi (pemikiran berulang yang negatif).