POLA JABAR - Kelinci Anggora, dengan bulunya yang luar biasa lembut, hangat, dan sering disebut sebagai serat mewah, telah lama menjadi primadona dalam industri tekstil. Namun, di balik keindahan dan kehalusan kain rajutan yang terbuat dari wol Angora, tersembunyi sebuah isu etika dan kesejahteraan hewan yang mendalam dan gelap, terutama yang disorot oleh liputan investigasi global yang kemudian memaksa banyak pengecer fashion besar untuk menarik produk Angora dari rak mereka. 

Kekejaman yang terungkap dalam rantai pasokan, terutama yang berpusat di peternakan skala besar di Tiongkok yang mendominasi hingga sembilan puluh persen dari pasar global menjadi titik balik yang membuat konsumen dan aktivis mulai mempertanyakan apakah serat mewah ini dapat diproduksi tanpa menyebabkan penderitaan pada hewan. 

Praktik yang paling menimbulkan kegelisahan adalah metode pencabutan bulu hidup (live plucking), di mana bulu kelinci dicabut dengan kasar hingga ke akar untuk menghasilkan serat yang lebih panjang dan bernilai jual tinggi, sebuah prosedur yang menyebabkan kelinci menjerit kesakitan dan meninggalkan mereka dalam keadaan telanjang dan trauma. Isu ini mendorong perdebatan besar mengenai apakah standar kesejahteraan hewan yang ketat, terutama di negara-negara dengan minimnya perlindungan hukum, dapat benar-benar diimplementasikan dalam skala komersial.

Kontroversi mengenai metode panen wol Angora menyoroti perbedaan mendasar antara praktik industri skala besar yang berorientasi pada kecepatan dan volume, dengan filosofi peternakan skala kecil yang mengutamakan etika dan kesejahteraan hewan. 

Pada peternakan-peternakan besar yang disorot dalam investigasi, kelinci seringkali dipaksa untuk hidup sendirian dalam kandang kawat yang sempit dan kotor, dengan kaki yang rentan terhadap luka dan radang, serta stres psikologis ekstrem akibat pengurungan dan perlakuan kasar yang berulang setiap dua hingga empat bulan sekali untuk memanen bulunya. 

Padahal, bulu Kelinci Anggora secara alami mengalami siklus moulting atau rontok. Pada peternakan yang etis dan ramah hewan, proses panen harus dilakukan dengan cara yang meniru proses alami ini, yaitu dengan mencukur atau menyisir secara lembut bulu-bulu yang sudah siap rontok, sebuah praktik yang tidak menimbulkan rasa sakit dan bahkan dapat menjadi bagian dari perawatan rutin yang dibutuhkan kelinci. 

Kelinci Anggora memang secara genetik dibiakkan untuk menghasilkan bulu yang lebat, yang jika tidak dipotong atau disisir, justru dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti hairball yang fatal karena mereka cenderung menjilat bulu yang rontok dan menumpuknya di perut.

Oleh karena itu, keberadaan industri wol Angora yang ramah hewan bergantung pada pergeseran total dari metode plucking yang kejam menuju praktik pencukuran (shearing) yang dilakukan secara teratur, lembut, dan memastikan kenyamanan hewan. 

Peternakan etis skala kecil, seringkali di Eropa atau Amerika, berpegangan teguh pada standar kesejahteraan yang tinggi, di mana kelinci dipelihara dalam lingkungan yang bersih, diberi ruang yang cukup, dan mendapatkan interaksi yang manusiawi.