POLA JABAR - Hubungan erat antara Kelinci Paskah (Easter Bunny) dengan perayaan kebangkitan Yesus Kristus di Dunia Barat sering kali menimbulkan pertanyaan, mengingat kelinci bukanlah bagian dari narasi Alkitab. Asal-usul ikon ini sebenarnya berakar jauh dari tradisi keagamaan murni, melainkan merupakan perpaduan menarik antara ritus pagan kuno yang merayakan musim semi dan proses inkulturasi simbol-simbol tersebut ke dalam perayaan Kristen. 

Sejumlah sejarawan dan sumber terpercaya, termasuk history.com, menunjukkan bahwa kelinci, atau lebih tepatnya hare (kelinci liar), telah lama dianggap sebagai simbol kesuburan dan kehidupan baru karena kemampuan reproduksinya yang luar biasa. 

Hewan ini seringkali terlihat berlimpah pada awal musim semi, periode dimana alam seolah-olah "bangkit" setelah musim dingin yang suram. Diperkirakan, keterkaitan ini berasal dari tradisi Anglo-Saxon kuno yang memuja Dewi Eostre, dewi musim semi dan kesuburan, yang perayaan musim semi untuknya kemungkinan besar bertepatan dengan perayaan Paskah modern, sehingga beberapa simbol pagannya, seperti kelinci dan telur, perlahan terserap ke dalam tradisi Kristen yang lebih luas.

Kelahiran Kelinci Paskah dalam bentuk yang kita kenal sekarang, yaitu sosok yang membawa dan menyembunyikan telur untuk anak-anak, berawal dari Jerman pada abad ke-17. Tradisi ini dikenal sebagai “Osterhase” atau “Oschter Haws” dalam dialek Jerman, yang secara harfiah berarti Kelinci Paskah. 

Dalam cerita rakyat Jerman ini, Kelinci Paskah digambarkan sebagai makhluk mirip juri yang bertugas menilai apakah anak-anak bersikap baik atau nakal. Bagi anak-anak yang berkelakuan baik, Osterhase akan meninggalkan keranjang berisi telur yang berwarna-warni, permen, dan terkadang mainan, yang disembunyikan di rumah atau kebun pada malam menjelang Minggu Paskah. 

Kisah ini memiliki kemiripan fungsional dengan sosok Sinterklas di Malam Natal, menjadikannya tokoh yang sangat dinantikan oleh anak-anak. Peran kelinci sebagai pembawa telur mungkin terdengar aneh, mengingat kelinci tidak bertelur, namun ini adalah penggabungan dua simbol kuno kelinci (kesuburan) dan telur (kehidupan baru) menjadi satu karakter mitologis yang utuh.

Fenomena Osterhase ini kemudian bermigrasi dan menyebar ke Dunia Barat, khususnya ke Amerika Serikat, melalui gelombang imigran Jerman yang menetap di Pennsylvania pada tahun 1700-an. Para imigran ini membawa serta kebiasaan dan cerita rakyat mereka, termasuk tradisi Kelinci Paskah yang membawa telur. 

Di Amerika, tradisi ini berkembang pesat. Anak-anak akan menyiapkan sarang (yang kemudian berevolusi menjadi keranjang Paskah yang dihias) di pojok-pojok tersembunyi rumah mereka, berharap Kelinci Paskah akan datang dan mengisinya dengan telur berwarna dan manisan. 

Popularitas Kelinci Paskah meningkat tajam seiring dengan dimulainya komersialisasi perayaan Paskah di abad ke-19, ketika pabrik-pabrik di Jerman mulai memproduksi permen dan patung-patung Kelinci Paskah yang terbuat dari gula yang kemudian diikuti oleh versi cokelat yang kini sangat populer.