POLA JABAR - Dalam ranah Animal-Assisted Therapy (AAT), perhatian publik seringkali terfokus pada anjing dan kucing, namun belakangan ini, kelinci mulai mendapatkan pengakuan yang signifikan sebagai hewan terapi yang sangat efektif karena sifatnya yang tenang dan fisiknya yang lembut. 

Keunikan kelinci terletak pada karakteristiknya sebagai hewan mangsa, yang secara naluriah sangat sensitif dan membutuhkan lingkungan yang aman. Sifat sensitif inilah yang justru menjadi kekuatan terbesar dalam konteks terapi. 

Ketika seorang pasien berinteraksi dengan kelinci, terutama dengan mengelus bulunya yang halus dan menyaksikan gerak-geriknya yang damai, terjadi respons biologis yang kuat dalam tubuh manusia. 

Sentuhan lembut pada kelinci diketahui dapat memicu pelepasan oksitosin sering dijuluki "hormon cinta" atau "hormon ikatan" yang berperan penting dalam menciptakan perasaan tenang, mengurangi rasa takut, dan membangun koneksi emosional.

Dampak psikologis yang paling menonjol dari interaksi ini adalah kemampuannya untuk secara nyata menurunkan kadar hormon kortisol dalam tubuh, yang merupakan indikator utama stres. 

Ketika seseorang berada di bawah tekanan atau mengalami kecemasan, kelenjar adrenal akan memproduksi kortisol dalam jumlah besar. Berinteraksi dengan kelinci, meskipun hanya dalam waktu singkat, terbukti dapat memutus siklus stres ini dan memicu respon relaksasi yang dalam. 

Kehadiran kelinci yang menenangkan memaksa pasien untuk memperlambat gerakan dan berbicara dengan suara yang lembut, karena kelinci akan cepat terkejut dengan kebisingan atau gerakan tiba-tiba. 

Tuntutan untuk bersikap tenang ini secara tidak langsung melatih pasien dalam praktik perhatian penuh (mindfulness) dan regulasi emosi, menjadikannya metode yang sangat berguna dalam terapi bagi individu yang mengalami gangguan kecemasan, Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), atau bahkan depresi.

Selain efek penenang yang langsung terasa, kelinci juga memainkan peran penting dalam meningkatkan keterampilan komunikasi dan empati, terutama pada anak-anak dan remaja dengan kondisi khusus, seperti autisme atau kesulitan sosial.