POLAJABAR.COM - Intensitas kemarau yang berkepanjangan di wilayah Kabupaten Tasikmalaya telah memicu krisis air bersih yang semakin mengkhawatirkan di Kecamatan Bojonggambir. Situasi ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah terkait pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Dampak kekeringan yang semula hanya dirasakan di Desa Kertanegla kini dilaporkan telah meluas ke wilayah tetangga, yaitu Desa Pedangkamulyan. Perluasan area terdampak ini menambah kompleksitas penanganan krisis sumber daya air di kawasan tersebut.
Secara keseluruhan, lebih dari 2.300 warga kini menghadapi kesulitan signifikan dalam mengakses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Angka ini merupakan akumulasi dari warga yang kesulitan di kedua desa yang terdampak kekeringan tersebut.
Rincian dampak menunjukkan bahwa Desa Kertanegla menjadi lokasi awal dengan 1.200 jiwa yang secara langsung merasakan dampak kekurangan air bersih. Kondisi ini memaksa mereka mencari sumber alternatif untuk sanitasi dan kebutuhan hidup lainnya.
Sementara itu, Desa Pedangkamulyan menyumbang 1.100 jiwa yang kini juga berjuang keras memenuhi kebutuhan sanitasi harian mereka. Keterbatasan air sangat memengaruhi kualitas hidup dan kesehatan masyarakat setempat.
Kekeringan di Desa Pedangkamulyan secara spesifik dilaporkan telah mencekik tiga wilayah dusun sekaligus. Ketiga dusun yang terdampak parah tersebut adalah Awilega, Kostabaru, dan Kostasari.
Kondisi yang paling mengkhawatirkan adalah laporan mengenai sumber air utama warga di ketiga dusun tersebut telah mengering total. Hal ini menandakan bahwa pasokan air permukaan dan dangkal sudah tidak tersedia sama sekali.
"Krisis air bersih akibat kemarau panjang di Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, kian mengkhawatirkan," Dikutip dari sumber berita terkait.
"Kondisi ini memaksa lebih dari 2.300 warga di dua desa tersebut memutar otak demi mendapatkan air," ujar salah satu relawan kemanusiaan.
