POLA JABAR - Selama beberapa dekade, paru-paru manusia dianggap sebagai organ yang steril. Namun, kemajuan teknologi genomik telah membuktikan bahwa paru-paru yang sehat sebenarnya dihuni oleh komunitas mikroorganisme yang kompleks dan dinamis, yang dikenal sebagai mikrobiota paru. Keseimbangan ekosistem kecil ini memegang peranan krusial dalam menjaga fungsi sistem kekebalan tubuh dan mencegah peradangan.

Sayangnya, tren penggunaan rokok elektronik atau vape membawa tantangan baru bagi stabilitas lingkungan internal ini. Penelitian terbaru yang dirilis oleh Microbiome Journal menyoroti bagaimana paparan aerosol dari vape secara signifikan dapat mengubah komposisi dan keragaman bakteri di dalam paru-paru, sebuah kondisi yang dikenal sebagai disbiosis.

Perubahan Komposisi Bakteri akibat Aerosol

Aerosol yang dihasilkan oleh rokok elektronik mengandung partikel ultra-halus, logam berat, dan senyawa kimia seperti propilen glikol serta gliserin nabati. Ketika zat-zat ini masuk ke dalam saluran pernapasan, mereka menciptakan lingkungan yang tidak ramah bagi bakteri menguntungkan, namun justru mendukung pertumbuhan patogen atau bakteri yang berpotensi berbahaya.

Studi dalam Microbiome Journal menunjukkan bahwa pengguna vape cenderung memiliki peningkatan kelimpahan bakteri tertentu yang biasanya dikaitkan dengan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan asma. Sebaliknya, populasi bakteri pelindung yang bertugas menjaga homeostasis imun justru mengalami penurunan drastis. Perubahan ini terjadi bukan hanya karena zat kimia di dalam cairan vape, tetapi juga akibat perubahan suhu dan kelembapan di dalam rongga paru saat proses penguapan terjadi.

Dampak Terhadap Sistem Kekebalan Tubuh

Ketidakseimbangan mikrobiota paru bukan sekadar masalah perubahan jumlah bakteri. Ekosistem yang terganggu ini mengirimkan sinyal yang salah kepada sel-sel imun. Dalam kondisi normal, mikrobiota sehat membantu "melatih" sistem kekebalan untuk membedakan antara ancaman nyata dan partikel yang tidak berbahaya.

Ketika disbiosis terjadi akibat paparan vape, sistem imun dapat menjadi hiper-reaktif atau justru melemah. Kondisi ini memicu peradangan kronis pada jaringan paru, yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan struktural. Selain itu, hilangnya keragaman mikrobiota membuat paru-paru kehilangan pertahanan alaminya, sehingga virus dan bakteri luar lebih mudah untuk menginfeksi dan berkembang biak. Hal inilah yang menjelaskan mengapa beberapa pengguna vape dilaporkan lebih rentan terhadap infeksi saluran pernapasan akut.

Peran Perasa dan Nikotin Sintetis