POLA JABAR - Bawang putih telah digunakan sebagai obat alami dan rempah masakan selama ribuan tahun. Namun, muncul pertanyaan yang seringkali membingungkan: apakah manfaat kesehatan bawang putih tetap utuh setelah dimasak? Pilihan antara mengkonsumsi bawang putih mentah yang tajam atau bawang putih masak yang lembut ternyata memiliki implikasi signifikan terhadap kandungan nutrisi dan khasiat terapeutiknya. Memahami perbedaan ini sangat penting untuk memaksimalkan manfaat yang ditawarkan oleh superfood dapur ini.

Kunci dari hampir semua manfaat kesehatan bawang putih terletak pada senyawa yang mengandung sulfur, terutama allicin. Allicin adalah senyawa bioaktif yang terbentuk ketika bawang putih dihancurkan, dicincang, atau dikunyah. 

Proses ini memicu reaksi antara enzim yang disebut allinase dan senyawa alliin. Allicin inilah yang bertanggung jawab atas aroma khas bawang putih dan sebagian besar manfaatnya, termasuk sifat antibakteri, antijamur, dan penurun tekanan darah.

Namun, enzim allinase sangat sensitif terhadap panas. Paparan suhu tinggi dapat dengan cepat menonaktifkan enzim ini, yang berarti alicin tidak dapat terbentuk atau dipertahankan. 

Sumber kesehatan terkemuka seperti Verywell Health seringkali menyoroti bahwa cara kita menyiapkan bawang putih memegang peranan krusial dalam menentukan seberapa besar manfaat alicin yang akan kita dapatkan. Singkatnya, panas adalah musuh utama alicin.

Bawang Putih Mentah: Puncak Kekuatan Allicin

Mengonsumsi bawang putih dalam keadaan mentah adalah cara paling efektif untuk mendapatkan dosis alicin yang maksimal. Ketika siung bawang putih dihancurkan, allinase langsung bekerja mengubah alliin menjadi alicin. Sifat alicin yang kuat inilah yang memberikan manfaat signifikan, terutama bagi sistem kekebalan tubuh dan kesehatan jantung: