POLAJABAR.COM - Suasana khidmat di ruang sidang Mahkamah Konstitusi (MK) sempat berubah menjadi hening mendadak pada hari Senin, 6 Juli 2026. Momen tersebut terjadi ketika seorang dosen memberikan kesaksiannya terkait persoalan kesejahteraan aparatur sipil negara (ASN).
Sosok yang menjadi pusat perhatian adalah Imam Akhmad, seorang dosen berusia 36 tahun yang mengajar di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Ia tidak kuasa menahan emosinya saat memaparkan realitas pahit yang ia hadapi sebagai seorang ASN.
Kesaksian Imam Akhmad disampaikan dalam agenda sidang uji materi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Peristiwa ini menjadi sorotan karena mengungkapkan isu kesejahteraan di kalangan pendidik dan dosen.
Imam mengungkapkan penyesalan mendalam yang masih terus membekas dalam kehidupannya hingga saat ini. Penyesalan ini terkait dengan bagaimana ia memanfaatkan penghasilan pertamanya sebagai seorang profesional.
Ia menceritakan bahwa gaji pertamanya yang seharusnya menjadi hadiah bagi sang ibu, kini telah habis untuk menutupi kebutuhan keluarganya sendiri. Hal ini menjadi ironi mengingat jasa besar ibunya yang telah membesarkannya hingga meraih jenjang pendidikan magister.
"Gaji pertama yang seharusnya menjadi hadiah untuk sang ibu, seorang pedagang sayur yang membesarkannya hingga meraih gelar magister, justru habis untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri," ujar Imam Akhmad.
Sang ibu, yang memiliki profesi sebagai pedagang sayur, telah berjuang keras membiayai pendidikan Imam hingga mencapai gelar magister. Kenyataan bahwa gaji pertama tidak bisa dipersembahkan sepenuhnya menjadi beban emosional baginya.
Kesaksian Imam Akhmad ini menjadi refleksi penting mengenai tantangan finansial yang dihadapi oleh para dosen dan guru di Indonesia, terutama dalam konteks pengabdian kepada orang tua. Sidang tersebut menyoroti perlunya evaluasi terhadap standar gaji bagi para pendidik.
Dikutip dari berbagai sumber, kisah pilu ini memicu simpati banyak pihak yang hadir di sidang uji materi tersebut. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan pengabdian seorang anak dengan realitas ekonomi yang dihadapinya.
