POLAJABAR.COM - Sebuah karya musik ciptaan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, yang berjudul 'Lalaki Langit Lalanang Bejat' menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan. Lagu tersebut menjadi perbincangan hangat lantaran liriknya yang dinilai mengandung unsur seksis dan merendahkan kaum perempuan.
Kontroversi ini telah menarik perhatian luas, tidak hanya dari kalangan masyarakat umum, tetapi juga dari politikus, lembaga hukum, hingga aktivis pegiat hak-hak perempuan. Mereka secara terbuka menyuarakan keberatan mereka terhadap isi dari lagu yang diciptakan oleh kepala daerah tersebut.
Menanggapi gejolak publik yang terjadi, Bupati Purwakarta yang akrab disapa Om Zein Binzein segera memberikan tanggapan resmi. Ia menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas segala ketidaknyamanan yang timbul akibat lirik lagunya.
Permintaan maaf tersebut disampaikan langsung oleh Om Zein Binzein saat dirinya berada di Lapangan Desa Karoya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta. Momen tersebut terjadi pada hari Kamis, 02 Juli 2026, ketika ia sedang melaksanakan kegiatan gempungan di wilayah tersebut.
Om Zein menegaskan bahwa penciptaan lagu tersebut sama sekali tidak memiliki niat buruk ataupun intensi untuk melakukan pelecehan seksual secara verbal terhadap siapa pun. Ia menekankan bahwa maksud penciptaannya jauh dari konotasi negatif yang berkembang di masyarakat.
"Pertama-tama saya secara pribadi memohon maaf kepada seluruh masyarakat atas ketidaknyamanan ini, dan mohon maaf jika kata-kata dalam lagu itu membuat beberapa pihak ada yang tersinggung," ujar Om Zein Binzein.
Ia melanjutkan penjelasannya mengenai niat di balik lagu yang menjadi sumber kontroversi tersebut di hadapan publik. Bupati Purwakarta tersebut ingin meluruskan persepsi negatif yang terbentuk di tengah masyarakat luas.
"Saya tidak bermaksud untuk menyinggung siapa pun dan tidak mendeskripsikan siapa pun," tegas Om Zein Binzein saat ditemui di lokasi kegiatan gempungan tersebut, Kamis (02/07/2026).
Dikutip dari berbagai sumber, respons cepat dari Bupati Purwakarta ini diharapkan dapat meredakan polemik yang sudah terlanjur membesar mengenai lagu ciptaannya yang menuai kecaman tersebut.