POLA JABAR - Jeruk lemon seringkali menjadi bahan perdebatan dalam konteks diet sehat, terutama bagi mereka yang fokus pada keseimbangan pH tubuh. Dengan rasa yang sangat asam, banyak yang mengira lemon bersifat asam, sehingga harus dihindari dalam diet alkali (alkaline diet). 

Padahal, kenyataannya justru sebaliknya. Lemon adalah salah satu makanan yang paling direkomendasikan dalam diet ini karena efek akhirnya pada tubuh adalah alkalizing atau pembentuk basa. Memahami mekanisme di balik fenomena ini sangat penting bagi siapa pun yang ingin menerapkan gaya hidup alkali.

Diet alkali berfokus pada konsumsi makanan yang diyakini dapat membantu menjaga keseimbangan pH darah tubuh agar sedikit lebih basa (alkaline). Prinsip utama diet ini adalah bahwa tubuh kita bekerja lebih optimal pada pH basa, dan makanan asam dapat memicu peradangan serta masalah kesehatan lainnya. 

Meskipun di luar tubuh, lemon memiliki pH yang sangat asam karena tingginya kandungan asam sitrat, proses metabolisme lemon di dalam tubuh mengubah sifatnya secara drastis.

Sumber kesehatan terpercaya seperti Healthline secara konsisten menjelaskan bahwa efek makanan pada tubuh harus dinilai setelah makanan tersebut dicerna dan dimetabolisme. Ketika lemon masuk ke dalam tubuh, asam sitratnya dipecah selama proses pencernaan. 

Produk akhir dari metabolisme ini adalah senyawa alkali, seperti mineral. Mineral-mineral inilah yang kemudian memengaruhi pH urin dan berpotensi mendukung lingkungan internal tubuh yang lebih basa. Inilah alasan mengapa lemon menjadi andalan dalam diet alkaline.

Mekanisme Alkalizing Jeruk Lemon

1. Transformasi Asam Sitrat

Kunci dari efek alkaline lemon terletak pada asam sitrat. Meskipun asam, asam sitrat adalah asam organik yang lemah dan mudah dimetabolisme. Setelah dikonsumsi, asam sitrat dipecah di dalam tubuh, dan mineral alkali yang terikat padanya (seperti kalium, magnesium, dan kalsium) dilepaskan ke aliran darah. Mineral-mineral ini kemudian berkontribusi pada alkalinitas tubuh, bukan keasaman.