POLA JABAR - Jambu biji (Psidium guajava L.), khususnya varietas merah yang manis dan kaya air, telah lama dikenal sebagai buah tropis dengan segudang manfaat kesehatan. Namun, perannya yang paling menonjol dan signifikan dalam ilmu gizi adalah sebagai peningkat utama bioavailabilitas zat besi, terutama jenis zat besi non-heme yang banyak terdapat pada sumber nabati. 

Pengaruh positif jambu biji terhadap penyerapan zat besi ini tidak datang dari kandungan zat besi yang tinggi di dalamnya meskipun buah ini memang memilikinya dalam jumlah kecil melainkan dari kandungan Vitamin C (asam askorbat) yang luar biasa tinggi. 

Jambu biji bahkan sering disebut-sebut mengandung Vitamin C beberapa kali lipat lebih banyak dibandingkan jeruk, menjadikannya agen yang sangat kuat dalam memfasilitasi proses penyerapan mineral esensial ini di dalam sistem pencernaan manusia. Peran ini sangat penting dalam konteks nutrisi global, khususnya dalam upaya pencegahan dan penanggulangan anemia defisiensi besi, kondisi kekurangan nutrisi paling umum di dunia.

Mekanisme biokimiawi di balik sinergi antara jambu biji dan zat besi berpusat pada reaksi kimia yang terjadi di usus halus. Zat besi yang dikonsumsi, khususnya zat besi non-heme dari tumbuh-tumbuhan dan juga dari suplemen Fe, umumnya berada dalam bentuk besi ferri (3+), sebuah bentuk yang sulit untuk diserap oleh sel-sel mukosa usus. Di sinilah peran Vitamin C yang terkandung melimpah dalam jambu biji menjadi vital. Asam askorbat bertindak sebagai agen pereduksi yang kuat, secara efektif mengubah besi ferri (3+) menjadi besi ferro (2). 

Bentuk besi ferro (2+) ini jauh lebih mudah larut dalam lingkungan asam di lambung dan usus bagian atas, sehingga meningkatkan kemampuannya untuk berikatan dengan reseptor sel usus dan ditransportasikan masuk ke dalam aliran darah. 

Proses reduksi ini sangat bergantung pada tingkat keasaman (pH) di lambung; semakin asam lingkungannya, semakin besar peluang konversi dan penyerapan zat besi yang efisien.

Konsumsi jambu biji, baik dalam bentuk buah segar maupun jus, terbukti secara signifikan dapat meningkatkan efisiensi penyerapan zat besi hingga puluhan persen. Penelitian-penelitian nutrisi, seringkali diterbitkan dalam jurnal bergengsi seperti yang diulas oleh Nutrition Reviews, menunjukkan bahwa penambahan sumber Vitamin C tinggi seperti jambu biji pada makanan atau suplemen yang mengandung zat besi dapat memaksimalkan manfaat terapeutik dari suplementasi Fe, khususnya pada kelompok rentan seperti remaja putri dan ibu hamil yang sering mengalami anemia. 

Beberapa studi intervensi bahkan menemukan bahwa kombinasi tablet zat besi dengan jus jambu biji merah menunjukkan peningkatan kadar hemoglobin (Hb) yang lebih cepat dan signifikan dibandingkan hanya pemberian tablet Fe saja atau bahkan kombinasi Fe dengan sumber Vitamin C lain. 

Hal ini menggarisbawahi potensi jambu biji sebagai intervensi gizi non-farmakologis yang efektif dan terjangkau dalam konteks kesehatan masyarakat.