POLA JABAR - Kelinci telah lama bertransformasi dari sekadar hewan ternak atau simbol musim semi menjadi salah satu hewan peliharaan paling populer yang menempati rumah-rumah tangga di seluruh Eropa. Peningkatan pesat status kelinci ini tidak terlepas dari sejumlah faktor yang membuatnya sangat cocok dengan gaya hidup modern, terutama di wilayah perkotaan yang padat. 

Daya tarik utama kelinci terletak pada ukurannya yang relatif kecil, yang secara praktis lebih mudah dikelola dibandingkan anjing berukuran besar, menjadikannya pilihan ideal bagi mereka yang tinggal di apartemen atau rumah tanpa halaman luas. 

Selain itu, sifatnya yang umumnya tenang, cenderung pendiam, dan relatif mudah dilatih untuk menggunakan kotak kotoran (litter box) membuatnya menjadi alternatif yang menarik bagi para pencinta hewan yang mencari pendamping yang tidak menuntut perhatian seintensif anjing.

Evolusi kelinci dari hewan yang sering diabaikan menjadi anggota keluarga yang dihargai juga didorong oleh kesadaran yang semakin tinggi tentang kebutuhan dan kecerdasan emosional mereka. 

Berlawanan dengan stereotip lama yang menggambarkannya sebagai hewan kandang yang pemalu dan pasif, kelinci kini diakui sebagai makhluk yang sosial, cerdas, dan memiliki kepribadian yang unik bahkan dapat menunjukkan kasih sayang dan membentuk ikatan kuat dengan pemiliknya. 

Kelinci yang dirawat dengan baik, yang diberi ruang gerak yang memadai di dalam rumah, dan diizinkan berinteraksi dengan manusia, sering kali menampilkan tingkah laku yang lucu dan menggemaskan, seperti binkying (lompatan kegirangan) atau berlari mengelilingi kaki pemiliknya. Peningkatan pengetahuan ini, yang banyak disebarluaskan oleh komunitas pecinta hewan dan media, membantu masyarakat Eropa melihat kelinci bukan hanya sebagai binatang pameran, tetapi sebagai teman berbulu yang interaktif dan responsif.

Laporan dan analisis yang disajikan oleh berbagai publikasi, termasuk yang sering disorot oleh theguardian.com, menunjukkan bahwa tren adopsi kelinci di Eropa terutama selama periode pembatasan sosial mengalami lonjakan signifikan, mengukuhkan posisinya di samping kucing dan anjing. 

Namun, popularitas ini juga membawa tantangan, yaitu meningkatnya kesadaran akan kesejahteraan kelinci. Kelinci membutuhkan ruang yang lebih besar dari yang diperkirakan, diet yang sangat spesifik (berbasis rumput kering atau hay), serta interaksi sosial, karena secara naluriah mereka adalah hewan berkelompok. 

Oleh karena itu, di banyak negara Eropa, fokus telah bergeser dari sekadar memelihara menjadi memelihara dengan benar; mendorong pemilik untuk menjaga kelinci secara berpasangan atau berkelompok, menyediakan kandang besar (pen atau hutch) yang memadai, dan memastikan mereka mendapatkan perawatan medis khusus (exotic pet vet) yang sesuai dengan kebutuhan spesies herbivora mereka.