POLA JABAR - Hubungan antara konsumsi gula, khususnya added sugar atau gula tambahan, dengan kesehatan jantung telah menjadi subjek penelitian intensif selama beberapa dekade, dan temuan dari studi epidemiologi terbaru semakin memperkuat bukti bahwa gula merupakan kontributor independen yang signifikan terhadap risiko penyakit kardiovaskular. 

Sebelumnya, gula sering dianggap sebagai bahaya tidak langsung, di mana kelebihan konsumsi hanya akan menyebabkan penambahan berat badan dan obesitas, dan barulah obesitas yang menjadi penyebab penyakit jantung. Namun, analisis data yang dilakukan oleh tim peneliti dan dipublikasikan dalam jurnal bergengsi JAMA Internal Medicine menunjukkan korelasi yang jauh lebih langsung dan mengkhawatirkan: semakin tinggi persentase kalori harian yang berasal dari gula tambahan, semakin besar pula risiko individu tersebut meninggal akibat penyakit jantung, terlepas dari faktor berat badan atau usia.

Studi epidemiologi ini memetakan konsumsi gula tambahan dalam jangka waktu yang panjang pada ribuan partisipan dan mengamati hasil klinis yang didapatkan, memberikan pandangan yang komprehensif mengenai bahaya gula melampaui efeknya pada lingkar pinggang. 

Para peneliti menemukan bahwa individu yang mengkonsumsi 25% atau lebih kalori harian mereka dari gula tambahan memiliki risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular yang lebih dari dua kali lipat dibandingkan mereka yang mengkonsumsi kurang dari 10% kalori dari gula tambahan. 

Angka ini adalah peringatan yang keras, menunjukkan bahwa ambang batas toleransi tubuh terhadap gula tambahan jauh lebih rendah dari yang diperkirakan banyak orang. Mekanisme dibalik hubungan ini dijelaskan oleh beberapa jalur biologis yang dipicu oleh gula, termasuk peningkatan resistensi insulin, peningkatan kadar trigliserida, dan peningkatan tekanan darah, yang semuanya merupakan faktor risiko penyakit jantung koroner yang terpisah dan berbahaya.

Mekanisme patofisiologi yang menghubungkan gula dengan kerusakan jantung melibatkan cara tubuh memetabolisme fruktosa, salah satu komponen utama gula meja (sukrosa) dan sirup jagung fruktosa tinggi. 

Tidak seperti glukosa yang dapat dimetabolisme oleh berbagai organ, fruktosa sebagian besar diproses di hati. Konsumsi fruktosa berlebihan membanjiri jalur metabolisme hati, menyebabkan hati mengubah fruktosa menjadi lemak, yang kemudian dilepaskan ke aliran darah dalam bentuk trigliserida dan kolesterol LDL yang kecil dan padat jenis yang sangat berbahaya bagi pembuluh darah. 

Selain itu, asupan gula tinggi juga memicu peradangan kronis tingkat rendah di seluruh tubuh. Peradangan ini adalah akar dari aterosklerosis, yaitu pengerasan dan penyempitan arteri, yang pada akhirnya dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke. Dengan adanya temuan yang divalidasi dan dipublikasikan di JAMA Internal Medicine, bukti ilmiah semakin jelas bahwa pembatasan konsumsi gula tambahan adalah strategi pencegahan kardiovaskular yang penting, setara dengan pengendalian kolesterol dan tekanan darah.

Pembatasan yang direkomendasikan oleh organisasi kesehatan global umumnya tidak melebihi 10% dari total kalori harian yang berasal dari gula tambahan. Namun, studi epidemiologi yang kuat ini menyarankan bahwa konsumsi idealnya harus jauh lebih rendah.