POLA JABAR - Pemilik kelinci sering kali disalah pahami bahwa hewan peliharaan berbulu lembut ini tidak memerlukan rezim perawatan preventif yang sama ketatnya dengan anjing atau kucing, terutama dalam hal vaksinasi. Anggapan ini adalah sebuah kekeliruan fatal yang dapat membahayakan nyawa kelinci kesayangan.
Berbeda dengan pandangan umum, kelinci peliharaan menghadapi ancaman serius dari penyakit virus yang sangat menular dan seringkali berakibat fatal, terutama Rabbit Hemorrhagic Disease (RHDV) dan Miksomatosis.
Dokter hewan spesialis hewan kecil dan sumber-sumber tepercaya seperti petmd.com secara konsisten menekankan bahwa imunisasi terhadap penyakit-penyakit mematikan ini bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kewajiban mendasar bagi setiap pemilik kelinci yang bertanggung jawab.
Ancaman penyakit ini tidak hanya datang dari kontak langsung dengan kelinci liar atau yang terinfeksi, tetapi juga dapat disebarkan secara tidak langsung melalui serangga vektor seperti nyamuk dan kutu, bahkan melalui pakaian atau sepatu pemilik, menjadikan setiap kelinci baik yang dipelihara di dalam maupun di luar ruangan berisiko tinggi.
Ancaman terbesar yang dihadapi kelinci peliharaan saat ini adalah Rabbit Hemorrhagic Disease Virus (RHDV), khususnya varian RHDV2 yang lebih agresif dan luas. Penyakit yang disebabkan oleh calicivirus ini terkenal karena tingkat kematiannya yang sangat tinggi, bahkan bisa mencapai 100%, dan seringkali tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas hingga kelinci mengalami kematian mendadak dalam waktu 48 hingga 72 jam setelah infeksi.
RHDV bekerja dengan menyebabkan pendarahan internal, kerusakan hati parah, dan kegagalan organ yang cepat. Mengingat sifat virus yang sangat mematikan dan penyebarannya yang cepat melalui kontak atau bahkan benda mati yang terkontaminasi, satu-satunya cara pertahanan yang efektif dan teruji secara medis adalah melalui pemberian vaksinasi RHDV.
Vaksinasi ini bekerja dengan mempersiapkan sistem kekebalan tubuh kelinci untuk mengenali dan melawan virus, memberikan perlindungan esensial yang sangat dibutuhkan di tengah meningkatnya laporan kasus penyakit ini di berbagai wilayah.
Selain RHDV, Miksomatosis adalah infeksi virus lain yang juga sangat mengkhawatirkan dan memerlukan pencegahan melalui vaksinasi. Miksomatosis ditularkan melalui gigitan serangga penghisap darah seperti nyamuk atau kutu, atau melalui kontak dengan kelinci yang terinfeksi.
Gejala khas dari Miksomatosis meliputi pembengkakan parah di sekitar mata, telinga, dan area genital (yang dikenal sebagai myxoma), demam, serta kesulitan bernapas yang disebabkan oleh pneumonia sekunder.