POLA JABAR - Menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus dari terbit hingga terbenamnya matahari. Secara fisiologis, tubuh mengalami pergeseran metabolisme yang signifikan ketika durasi makan dibatasi.
Agar produktivitas tetap terjaga dan tubuh tidak mengalami kelelahan ekstrem, pemahaman mengenai komposisi macronutrien atau zat gizi makro menjadi sangat krusial.
Merujuk pada prinsip nutrisi yang sering diulas oleh Harvard Health Publishing, tubuh memerlukan strategi asupan yang cerdas agar cadangan energi tidak habis di tengah hari. Macronutrien yang terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak memiliki peran spesifik yang harus diseimbangkan antara waktu sahur dan berbuka.
Karbohidrat sering kali disalahpahami sebagai pemicu kantuk, namun pada kenyataannya, ia adalah sumber bahan bakar utama bagi otak dan otot. Dalam konteks puasa, jenis karbohidrat yang dipilih menentukan seberapa lama Anda bisa bertahan tanpa merasa lemas.
Pakar kesehatan menyarankan fokus pada karbohidrat kompleks dengan indeks glikemik rendah. Makanan seperti gandum utuh, nasi cokelat, ubi jalar, dan biji-bijian memiliki struktur serat yang padat.
Serat ini memperlambat proses pengubahan karbohidrat menjadi glukosa, sehingga energi dilepaskan ke dalam aliran darah secara perlahan dan stabil.
Hal ini mencegah terjadinya "energy crash" atau penurunan energi secara drastis yang sering terjadi jika kita terlalu banyak mengonsumsi gula sederhana saat sahur.
Protein memegang peranan vital dalam menjaga daya tahan tubuh selama Ramadhan. Protein memiliki efek termik yang lebih tinggi dibandingkan nutrisi lainnya, yang berarti tubuh membakar lebih banyak energi untuk mencernanya dan memberikan sinyal kenyang yang lebih kuat ke otak.
Memasukkan sumber protein berkualitas seperti dada ayam, ikan, telur, atau kacang-kacangan saat sahur dapat membantu mencegah hilangnya massa otot (katabolisme) akibat jeda makan yang panjang.