POLA JABAR - Dalam narasi besar sejarah manusia, jarang ada komoditas yang mampu memicu peperangan, penjelajahan samudra, hingga keruntuhan kerajaan sebesar rempah-rempah.
Di antara jajaran rempah tersebut, kayu manis menempati kasta tertinggi sebagai salah satu aroma paling mistis dan paling diburu.
Jauh sebelum ia berakhir di atas taburan kopi latte atau kue kayu manis di kafe modern, kayu manis adalah simbol status, kekuasaan, dan ambisi global.
Mitos dan Misteri di Masa Kuno
Selama berabad-abad, asal-usul kayu manis diselimuti oleh kabut misteri yang sengaja diciptakan oleh para pedagang Arab. Untuk menjaga monopoli dan harga yang selangit, mereka menyebarkan kisah-kisah fantastis kepada bangsa Yunani dan Romawi.
Salah satu mitos yang paling terkenal menyebutkan bahwa kayu manis dikumpulkan dari sarang burung raksasa yang bertengger di puncak tebing yang tidak dapat dijangkau oleh manusia.
Mitos ini bukan tanpa alasan. Dengan menjaga kerahasiaan sumbernya, kayu manis menjadi barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh kalangan bangsawan dan pemuka agama.
Di Mesir kuno, kayu manis digunakan sebagai bahan penting dalam proses mumifikasi, sementara di Roma, Kaisar Nero konon membakar persediaan kayu manis dalam jumlah besar sebagai bentuk duka cita sekaligus pamer kekayaan saat pemakaman istrinya.
Jalur Rempah dan Perubahan Peta Dunia