POLA JABAR - Tempe makanan fermentasi tradisional Indonesia yang terbuat dari kedelai, telah lama diakui sebagai sumber protein nabati yang unggul. Namun, jauh melampaui citranya sebagai makanan murah meriah, tempe menyimpan potensi farmakologis yang luar biasa, terutama dalam upaya pencegahan dan penanganan hiperkolesterolemia kondisi tingginya kadar kolesterol dalam darah yang menjadi akar dari berbagai penyakit kardiovaskular, termasuk aterosklerosis dan penyakit jantung koroner.
Berdasarkan sejumlah penelitian yang dipublikasikan dan dirujuk dalam jurnal ilmiah, tempe terbukti secara signifikan memodulasi profil lipid, tidak hanya dengan menurunkan kolesterol total dan kolesterol Low-Density Lipoprotein (LDL, yang dikenal sebagai kolesterol jahat), tetapi juga dengan potensi untuk meningkatkan kadar kolesterol High-Density Lipoprotein (HDL, kolesterol baik).
Keampuhan tempe ini bukan sekadar klaim anekdotal, melainkan didukung oleh interaksi kompleks berbagai senyawa bioaktif yang terbentuk selama proses fermentasi yang melibatkan jamur Rhizopus oligosporus, sebuah sinergi alami yang menjadikannya superfood sesungguhnya.
Mekanisme penurunan kolesterol oleh tempe sangatlah multifaset dan melibatkan tiga jalur utama dalam tubuh. Pertama, Isoflavon, yang merupakan jenis fitoestrogen yang melimpah pada kedelai, mengalami perubahan struktur saat fermentasi menjadi bentuk aglikon (seperti genistein dan daidzein) yang jauh lebih mudah diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh.
Isoflavon aglikon ini menunjukkan aktivitas antioksidan yang kuat dan, yang terpenting, berinteraksi dengan reseptor estrogen dalam tubuh, yang secara tidak langsung memiliki efek positif dalam meregulasi metabolisme lemak.
Fungsi Isoflavon berperan dalam peningkatan jumlah reseptor LDL di permukaan sel hati, yang memungkinkan hati untuk menangkap dan mengeluarkan lebih banyak LDL dari aliran darah, sebuah proses kunci yang secara langsung berkontribusi pada penurunan kadar kolesterol jahat dan trigliserida.
Selain itu, isoflavon dan niasin dalam tempe juga dilaporkan memiliki kemampuan untuk menghambat aktivitas enzim HMG-CoA reduktase, yang merupakan enzim kunci dalam sintesis kolesterol di hati, mirip dengan cara kerja obat penurun kolesterol golongan statin, meskipun dengan intensitas yang lebih ringan dan alami.
Jalur kedua yang memberikan kekuatan tempe adalah peran Saponin dan Serat Makanan. Saponin, senyawa yang juga terdapat dalam tempe, memiliki sifat unik untuk mengikat kolesterol dan asam empedu di saluran pencernaan. Setelah saponin berikatan dengan kolesterol, kompleks tersebut tidak dapat diserap kembali oleh usus halus dan akhirnya akan dikeluarkan melalui feses.
Fenomena ini memaksa tubuh untuk menggunakan cadangan kolesterol yang ada di hati untuk memproduksi asam empedu baru, sehingga secara efektif menurunkan kadar kolesterol total dalam sirkulasi darah.