POLA JABAR - Istilah 'masuk angin' sangat familiar di Indonesia. Kondisi ini seringkali diartikan sebagai kumpulan gejala tidak enak badan seperti meriang, badan pegal, perut kembung, dan seringkali dikaitkan dengan paparan angin.
Namun, secara medis, 'masuk angin' sebenarnya bukanlah suatu diagnosis penyakit. Ini lebih merupakan istilah awam untuk menggambarkan sekumpulan gejala yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Lalu, apa saja fakta dan mitos seputar 'masuk angin' yang perlu diluruskan?
Fakta: Gejala 'Masuk Angin' Bisa Jadi Indikasi Penyakit Lain
Gejala-gejala yang sering dikaitkan dengan 'masuk angin' seperti demam, sakit kepala, dan badan pegal, bisa jadi merupakan indikasi awal dari infeksi virus atau bakteri. Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), influenza, atau bahkan COVID-19, dapat memunculkan gejala serupa.
Oleh karena itu, penting untuk tidak menganggap remeh gejala-gejala tersebut dan segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Diagnosis yang akurat akan membantu menentukan penanganan yang sesuai.
Mitos: 'Masuk Angin' Disebabkan oleh Angin
Angin itu sendiri bukanlah penyebab langsung dari 'masuk angin'. Sensasi tidak enak badan yang dirasakan setelah terpapar angin kemungkinan disebabkan oleh faktor lain, seperti penurunan suhu tubuh yang memicu respons imun atau peradangan.
Paparan suhu dingin dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit, yang dapat mengurangi aliran darah ke jaringan dan menyebabkan otot menjadi tegang. Hal ini dapat memicu rasa pegal dan tidak nyaman.
Fakta: Kelelahan dan Kurang Istirahat Memperburuk Gejala