POLA JABAR - Dalam beberapa tahun terakhir, tren diet bebas gluten (gluten-free) telah membawa tepung tapioka ke garis depan industri makanan. Diolah dari ekstraksi pati akar singkong (Manihot esculenta), tepung ini menjadi primadona bagi mereka yang memiliki intoleransi gluten atau penyakit celiac. Namun, di balik teksturnya yang kenyal dan fungsinya yang serbaguna, muncul pertanyaan krusial bagi kesehatan metabolik yakni Bagaimana pengaruhnya terhadap gula darah?

Berdasarkan data literatur kesehatan dari National Center for Biotechnology Information (NCBI), memahami karakteristik glikemik tapioka bukan sekadar soal kalori, melainkan tentang bagaimana tubuh merespons karbohidrat tersebut.

Apa Itu Indeks Glikemik (IG)?

Sebelum membedah tapioka, penting untuk memahami bahwa Indeks Glikemik adalah skala (0-100) yang mengukur seberapa cepat makanan berkarbohidrat meningkatkan kadar glukosa darah. 

Makanan dengan IG rendah (di bawah 55) diserap perlahan, sementara makanan dengan IG tinggi (di atas 70) menyebabkan lonjakan insulin yang cepat.

Profil Glikemik Tepung Tapioka

Tepung tapioka secara konsisten dikategorikan sebagai bahan pangan dengan Indeks Glikemik tinggi. Secara rata-rata, skor IG tapioka berkisar antara 70 hingga 85, tergantung pada proses pengolahan dan cara penyajiannya.

Mengapa angka ini begitu tinggi? Jawabannya terletak pada komposisi kimianya. Tapioka hampir seluruhnya terdiri dari pati murni dengan kandungan serat dan protein yang sangat minimal. Tanpa adanya serat atau lemak yang memperlambat pencernaan, enzim dalam tubuh dapat dengan cepat memecah pati tersebut menjadi glukosa.

Mekanisme Tubuh Saat Mengkonsumsi Tapioka